Kompas.com - 02/03/2020, 20:02 WIB

"Selalu ada perlambatan umum ini sepanjang tahun ini. Data OMI jangka panjang kami memungkinkan kami untuk melihat apakah jumlah ini abnormal dan mengapa (terjadi)," kata Barry Lefer, seorang ilmuwan kualitas udara di NASA.

Polusi udara di Beijing masih tinggi

Kendati demikian, data satelit bukan satu-satunya cara untuk melihat penurunan emisi gas buang di China.

Analisis awal yang diterbitkan oleh Carbon Brief pada bulan Februari menunjukkan, penggunaan batu bara di pembangkit listrik berada pada titik terendah dalam empat tahun, dan penerbangan domestik turun 70 persen.

Seiring dengan penurunan dalam produksi baja dan output kilang minyak, mereka memperkirakan ini mungkin telah menurunkan emisi karbon dioksida di China sekitar seperempat selama beberapa minggu terakhir.

Hanya karena industri telah menurunkan output karbon dioksida dan tingkat nitrogen dioksida lebih rendah di atas China, tidak berarti udara lebih bersih di perkotaan.

Sebab, pada pertengahan Februari, tingkat polusi udara Beijing masih 10 kali lipat dari yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca juga: Wabah Virus Corona, Tamparan Pahit Kesehatan Manusia dari Krisis Iklim

"Bahkan tanpa emisi mobil, emisi industri dan batu bara ini sudah cukup untuk menjerumuskan Beijing ke dalam polusi parah berturut-turut di tengah cuaca yang tidak menguntungkan," kata Ma Jun, direktur Institut Urusan Publik dan Lingkungan.

Para peneliti akhirnya mencatat rendahnya nitrogen dioksida dibandingkan tahun lalu, disebabkan karena China mulai menegakkan peraturan lingkungan yang lebih ketat.

Kendati demikian, tidak ada satu pun faktor yang cukup kuat yang berkontribusi menambahkan pengurangan nitrogen dioksida di negara ini.

Artinya, kemungkinan penurunan emisi gas tersebut juga turut disebabkan oleh adanya wabah virus corona.

"Tahun ini, tingkat pengurangan (polusi) lebih signifikan daripada tahun-tahun sebelumnya. Saya tidak terkejut karena banyak kota di seluruh negeri telah mengambil langkah untuk meminimalkan penyebaran virus (corona)," jelas Liu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.