Kompas.com - 02/03/2020, 12:03 WIB

Bagaimana mencairnya es di dari kutub utara menuju ke penyebaran virus atau penyakit menular? Benang merahnya adalah si pembawa sumber penyakit.

Dr. Tracey Goldsten dalam laporan bertajuk "The Ocean and Cryosphere in a Changing Climate", pada September 2019 lalu menyatakan bahwa hilangnya lapisan es di Kutub Utara mendorong satwa laut liar di dalamnya untuk bermigrasi.

Lantas, dalam proses migrasinya mencari tempat makan dan tempat tinggal baru, mereka akan berinteraksi dengan satwa yang sebelumnya tidak sehabitat.

“Interaksi beda habitat ini membuka peluang dalam perkenalan dan transmisi penyakit menular baru, yang sayangnya berpotensi mematikan,” ujar Tracey yang juga peneliti dari Universitas California, Davis.

Baca juga: Virus Corona Sulit Dihentikan, Ini yang Harus Dilakukan Dunia

Sejarah sudah mencatat, bahwa hewan adalah pembawa patogen ke manusia. Mulai dari awal 1980, bagaimana AIDS/HIV yang banyak terindikasi menyebar dari monyet, lalu flu burung di pertengahan tahun 2000-an, diikuti flu babi di akhir 2000-an.

Teranyar, mengutip tulisan Profesor Tim Benton yang dimuat situs berita BBC pada 31 Januari 2020, kelelawar menjadi induk penyebaran corona virus dan turunannya (SARS, MERS dan Covid-19) dan sebelumnya diketahui bahwa kelelawar juga memberi manusia pandemik Ebola di Afrika.

Profesor Tim yang juga Direktur Program Energy, Environment and Resources di Royal Institute of International Affairs, dengan terang menyatakan bahwa manusia selalu mendapatkan penyakit dari hewan (zoonosis). Bahkan, hampir semua penyakit menular penyebaran dari satwa liar.

Namun, krisis iklim yang semakin parah, mempercepat prosesnya. Apalagi globalisasi membuka ruang manusia untuk berpindah tempat dalam waktu cepat.

Nah, sayangnya, pada kasus penyebaran penyakit hewan ke manusia, Profesor Tim menguraikan korban paling rentannya adalah penduduk di wilayah padat dan miskin.

Mereka yang hidup dalam tempat dengan sanitasi buruk, udara yang terpolusi, dan nutrisi kurang, akan menyebabkan imun tubuh melemah, sehingga membuka ruang untuk masuknya patogen. Padatnya populasi kota, juga mempercepat penyakit menular ini.

Pendapat dari Profesor Tim tersebut dikuatkan sejawatnya dari Global Change Center, Virginia Tech, yaitu Dr. Luis Escobar.

Baca juga: WHO: Status Virus Corona Berpotensi Naik dari Epidemik Jadi Pandemik

Dalam wawancara dengan radio WVTF (radio nasional di kawasan Virginia, Amerika Serikat) pada 6 Februari lalu, Luis menyatakan bahwa krisis iklim membuka benteng manusia terhadap patogen.

Secara spesifik, ahli penyakit ekologi ini, menjelaskan bahwa deforestasi dan pembukaan tutupan hutan akan mendekatkan manusia dengan virus yang seharusnya hidup di habitat liarnya.

Doktor Luis mengatakan, sedari ribuan tahun lalu virus-virus ini sudah hidup berdampingan dengan manusia dan hewan. Virus ini berinang ke hewan-hewan liar tersebut. Namun kenaikan suhu bumi dan perilaku manusia yang merusak alam, mengubah ekosistem dan perilaku para satwa ini. Satwa pun bermigrasi atau bahkan berinteraksi dengan manusia.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

Fenomena
Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.