Kompas.com - 02/03/2020, 12:03 WIB

Padahal, menurut Luis, satwa liar dan virus itu sudah berevolusi bersama sampai ke tingkat tidak membahayakan bagi alam. Virus membutuhkan inang, untuk tetap hidup dari generasi ke generasi dan bisa hidup tanpa membuat hewan yang ditempatinya sakit.

Namun, ketika iklim dan bentang alam habitat induknya berubah, virus pun mengalami adaptasi. Virus flu, Luis mencontohkan, lebih mudah bertahan di udara yang lembap, ketimbang udara kering. Fakta ini menunjukkan bahwa iklim akan mempengaruhi kecepatan penyebaran virus.

Pada kasus corona, dia menemukan bahwa virusnya lebih cepat menyebar, ketimbang dua kakaknya dahulu, yaitu SARS dan MERS.

Korelasi antara kenaikan suhu bumi dengan kecepatan penyebaran penyakit berbasis virus dari induk kelelawar, memang belum ada data ilmiah yang disepakati bersama. Namun, pada kasus arboviral (infeksi virus dari serangga dan artopoda), sudah ada kajiannya tentang korelasi perubahan iklim.

Dalam laporan WHO di atas, disebutkan bahwa kenaikan suhu 2-3 derajat celcius, akan meningkatkan terjadinya demam berdarah dan malaria 3-5 persen.

Peneliti dari Universitas Florida, menguatkan estimasi WHO tersebut. Laporan di jurnal PNAS berjudul "Amazon deforestation drives malaria transmission, and malaria burden reduces forest clearing" yang terbit Oktober 2019 menunjukkan bahwa korelasi kuat antara pembukaan tutupan hutan tropis dan penyebaran penyakit.

Tim peneliti dari Universitas Florida menyimpulkan bahwa kenaikan laju deforestasi di Hutan Amazon, Brasil sebesar 10 persen, akan mendorong peningkatan kasus malaria sebesar 3.4 persen.

Jadi, apakah kita masih mau menjadi penonton atau terjun langsung dalam ikhtiar mencegah darurat iklim? Corona dan darurat iklim menanti aksi nyata kita.

Niel Makinuddin dan Dianing Sari

Pegiat lingkungan di Yayasan Konservasi Alam Nusantara/YKAN)

Catatan penulis: opini ini tidak mewakili pandangan YKAN

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.