Kebakaran Telah Melahap Seperlima Hutan di Australia

Kompas.com - 25/02/2020, 19:02 WIB
Citra satelit juga menangkap asap pekat yang mengepul hasil dari kebakaran di Austrlia, Selasa (31/12/2019) . science alertCitra satelit juga menangkap asap pekat yang mengepul hasil dari kebakaran di Austrlia, Selasa (31/12/2019) .

KOMPAS.com - Kebakaran hutan di Australia sudah menghancurkan seperlima hutan di benua tersebut. Peristiwa ini dikatakan sebagai yang terburuk sepanjang masa.

Sebuah penelitian menunjukkan sekitar 5,8 juta hektar hutan di New South Wales dan Victoria telah terbakar pada September 2019 hingga Januari 2020. Kedua wilayah ini mencakup sekitar 21 persen hutan di Australia.

"Pada pertengahan musim semi 2019, kami menyadari sebagian besar wilayah hutan di Australia timur dapat terbakar dalam satu musim ini," kata Matthias Boer, perwakilan dari Hawkesburry Institute for The Environment di Western Sydney University seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (25/2/2020).

Dalam edisi spesial jurnal Nature Climate Change, para peneliti memeriksa berbagai faktor yang dapat memicu timbulnya api. Para ahli iklim juga memeriksa data di Australia tenggara untuk mengetahui seberapa jauh dampak yang dapat ditimbulkan oleh bencana tersebut terhadap kenaikan suhu.

Baca juga: BMKG: Waspada Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Berikut

Salah satu wilayah yang menarik perhatian para peneliti ialah Murray-Darling Basin. Kekeringan yang melanda wilayah ini membuat api semakin sulit dipadamkan.

Kelompok peneliti dari University of Melbourne mengamati fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang memiliki dampak langsung terhadap tingkat curah hujan di Australia dan wilayah lainnya.

Jika IOD negatif, akan ada lebih banyak permukaan laut dengan suhu hangat dibanding normal di Samudera Hindia Timur dengan perairan yang lebih dingin di bagian barat. Peristiwa ini cenderung mengubah pola cuaca dan biasanya membawa curah hujan yang lebih besar ke Australia tenggara.

Hal tersebut terbukti oleh tingkat curah hujan pada musim dingin 2016. Andrew King, salah satu dari kelompok peneliti University of Melbourne, menemukan data tingginya tingkat curah hujan di Murray-Darling Basin dan perubahan yang terjadi setelah itu.

Baca juga: Spesies Siput ini Lolos dari Kebakaran Hutan Australia, Kok Bisa?

Murray-Darling Basin mengalami tingkat curah hujan di bawah rata-rata selama 12 musim berturut-turut, menjadikannya periode panas terpanjang sejak tahun 1990.

"Dengan kondisi perubahan iklim, kami memprediksi akan terjadi lebih banyak IOD positif daripada negatif. Berarti kemungkinan kekeringan di Australia akan semakin memburuk," kata King.

Boer mengatakan perubahan iklim membuat Australia semakin rentan terhadap kebakaran hutan. Dia mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah efektif untuk menghadapi perubahan iklim.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X