Kompas.com - 25/01/2020, 17:03 WIB
Joaquin Phoenix ikut dalam protes perubahan iklim di Washington DC, 10 Januari 2020 Paul Morigi/Getty ImagesJoaquin Phoenix ikut dalam protes perubahan iklim di Washington DC, 10 Januari 2020

KOMPAS.com – Lebih dari 190 negara berkumpul dalam acara Konferensi untuk Perubahan Iklim PBB atau Conference of the Parties (COP) 25 di Madrid, Spanyol, Desember 2019 lalu.

Konferensi tersebut dilakukan guna merumuskan aturan yang lebih ketat terkait perubahan iklim sebagai tindak lanjut Perjanjian Paris 2015.

Sayangnya, pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil yang signifikan untuk mewujudkan suhu rata-rata global tidak lebih 2 derajat celsius dan menurunkannya hingga 1,5 derajat celsius.

Ini terjadi karena kebanyakan, negara masih berfokus pada masalah teknis dan sempit. Mereka sibuk mengurus pasar karbon dunia, yang memungkinkan negara penghasil karbon memberikan insentif kepada negara penyerap karbon.

Baca juga: Perubahan Iklim, Australia Jadi Negara Terpanas dan Terkering 2019

Padahal, berbagai riset dari sekurang-kurangnya 11.000 ilmuwan setuju jika bumi tengah mengalami darurat iklim.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Badan Penerbangan dan Antariksa atau NASA dari Amerika, misalnya, melaporkan bukti ilmiah perubahan iklim.

Laporan tersebut menyebutkan, selama ini tren pemanasan global secara signifikan meningkat lebih dari 95 persen, disebabkan oleh aktivitas manusia sejak pertengahan abad ke-20.

Beberapa bukti tersebut seperti meningkatnya suhu global, memanasnya air laut, mencairnya gletser, hingga meningkatnya permukaan air laut.

Untuk ikut mengawal isu penting ini, Kompas.com telah merangkum beberapa isu dan agenda lingkungan yang patut menjadi perhatian semua pihak.

Baca juga: Sebelum Perubahan Iklim Drastis, Apa Rencana Jangka Panjang Kita?

Keanekaragaman hayati

Pada 2019 lalu, PBB melaporkan 1 juta spesies binatang dan tumbuhan terancam akan mengalami kepunahan.

Laporan tersebut menyebut lebih dari setengah juta spesies mati di daratan karena berkurangnya habitat. Kehilangan ini pun terjadi lebih cepat puluhan hingga ratusan kali dari yang diprediksi.

Keadaan ini pun disebut akan mengancam keamanan pangan, air, kesehatan manusia, hingga memicu masalah sosial lainnya.

Center of Biological Diversity menyebutkan 99 persen spesies tumbuhan dan binatang yang terancam tersebut adalah gara-gara ulah manusia, yang mendorong berkurangnya habitat dan pemanasan global.

Cuaca ekstrem

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut, bulan Juni 2019 lalu merupakan bulan Juni terpanas yang pernah terjadi dalam 140 tahun terakhir.

Baca juga: UN Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem, Tahun Ini dan Seterusnya

Bahkan, masih dalam laporan NOAA, sembilan dari sepuluh bulan Juni yang terpanas terjadi sejak 2010.  Hal ini membuat dekade 2010-2019 menjadi yang terpanas.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Oh Begitu
Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Oh Begitu
4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

Oh Begitu
Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Oh Begitu
Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Oh Begitu
Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Fenomena
Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Oh Begitu
70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

Oh Begitu
Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Fenomena
Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Oh Begitu
Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Oh Begitu
Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.