UN Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem, Tahun Ini dan Seterusnya

Kompas.com - 16/01/2020, 13:03 WIB
Sejumlah pelajar saat beraksi dengan isu global Friday For Future di depan Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (15/3/2019). Aksi ini protes terhadap lambannya penanganan krisis pemanasan global di seluruh dunia. KOMPAS.com/Garry LotulungSejumlah pelajar saat beraksi dengan isu global Friday For Future di depan Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (15/3/2019). Aksi ini protes terhadap lambannya penanganan krisis pemanasan global di seluruh dunia.

KOMPAS.com – United Nations mengatakan temperatur rata-rata global selama lima tahun terakhir (2015-2019) dan 10 tahun terakhir (2010-2019) adalah yang terpanas sepanjang sejarah.

UN kemudian memperingkatkan, suhu di masa depan kemungkinan akan lebih ekstrem dan panas. Sehingga berpotensi menghasilkan berbagai bencana.

Berdasarkan data World Meteorological Organization (WMO), peningkatan temperature global telah menyebabkan beberapa konsekuensi. Beberapa di antaranya adalah berkurangnya es, peningkatan level permukaan laut, peningkatan panas dan tingkat keasaman laut, serta cuaca ekstrem.

Baca juga: Sebelum Perubahan Iklim Drastis, Apa Rencana Jangka Panjang Kita?

WMO juga menyebutkan bahwa 2019 adalah tahun kedua terpanas sepanjang sejarah. Tahun terpanas sejauh ini adalah 2016.

“Tahun 2020 dimulai dengan apa yang telah ditinggalkan oleh 2019, dengan cuaca ekstrem dan perubahan iklim,” tutur Ketua WMO Petteri Talaas seperti dikutip dari Science Alert, Kamis (16/1/2020).

Kebakaran di Australia misalnya, berdasarkan durasi dan intensitasnya, merupakan kebakaran hutan terbesar sepanjang sejarah Australia yang telah merenggut 28 nyawa. Bencana seperti inilah yang akan terjadi terkait dengan pemanasan global.

“Sayangnya, kami (WMO) melihat ada potensi cuaca ekstrem sepanjang 2020 dan satu dekade berikutnya. Hal itu berkaitan dengan daya menangkap panas gas rumah kaca pada atmosfer,” tutur Taalas.

Baca juga: Kebakaran Hutan Australia, Ini 6 Fakta yang Harus Anda Tahu

Data dari UN, emisi gas rumah kaca akibat perbuatan manusia perlu berkurang 7,6 persen tiap tahun hingga 2030, agar pada tahun tersebut, temperature global tidak bertambah lebih dari 1,5 derajat Celcius sesuai dengan perjanjian Paris.

Citra satelit (2/1/2020) yang menunjukkan kondisi kebakaran Australia.science alert Citra satelit (2/1/2020) yang menunjukkan kondisi kebakaran Australia.

Bukan sebuah kebetulan

Taalas mengatakan semenjak tahun 1850, temperatur rata-rata global telah bertambah sekitar 1,1 derajat Celcius.

“Dengan pola penyebaran karbondioksida saat ini, kita sepertinya akan menghadapi kemungkinan peningkatan temperatur dari 3 hingga 5 derajat Celcius pada akhir abad ini,” tuturnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X