Perubahan Iklim, Australia Jadi Negara Terpanas dan Terkering 2019

Kompas.com - 20/01/2020, 09:03 WIB
Seekor kanguru terluka dengan joey di kantongnya, tertatih-tatih melewati hutan yang terbakar di Cobargo, Australia, Kamis (9/1/2020). Kebakaran hutan hebat yang melanda sejumlah negara bagian di Australia dilaporkan menewaskan sedikitnya 24 orang, dengan lebih dari 2.000 rumah hancur dan membunuh sekitar 500 juta hewan liar. ANTARA FOTO/REUTERSTRACEY NEARMYSeekor kanguru terluka dengan joey di kantongnya, tertatih-tatih melewati hutan yang terbakar di Cobargo, Australia, Kamis (9/1/2020). Kebakaran hutan hebat yang melanda sejumlah negara bagian di Australia dilaporkan menewaskan sedikitnya 24 orang, dengan lebih dari 2.000 rumah hancur dan membunuh sekitar 500 juta hewan liar.

KOMPAS.com - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan, tahun 2019 suhu bumi rata-rata mencapai rekor tertinggi kedua dalam sejarah.

Suhu panas tertinggi yang pernah tercatat di dunia adalah di tahun 2016.

Organisasi yang berbasis di Jenewa, Swiss tersebut mengumpulkan data dari berbagai pengukuran di dunia, di antaranya yang dikumpulkan Badan Angkasa Luar milik Amerika Serikat (NASA) dan Data dari Kantor Cuaca Inggris.

Menurut WMO, semua penduduk dunia harus bersiap-siap menghadapi suhu udara yang lebih panas dan dapat mengakibatkan bencana, seperti kebakaran semak yang terjadi di Australia.

Baca juga: Kebakaran Australia: Ini Misi Penyelamatan Pohon Pinus Dinosaurus

Data yang disimpulkan WMO menunjukkan, suhu global di tahun 2019 adalah 1,1 derajat Celsius di atas sebelum industri revolusi.

Angka ini kemudian dianggap sebagai angka yang aman.

"Kita akan menghadapi suhu yang lebih ekstrem di sepanjang tahun 2020 dan juga selama beberapa dekade mendatang. (Ini) disebabkan gas rumah kaca yang ada di atmosfer," kata Sekjen WMO, Petteri Taalas.

"Australia sudah mengalami tahun paling panas dan paling kering dalam sejarah di tahun 2019, membuat terjadinya kebakaran semak yang sudah memakan korban begitu banyak orang, properti, satwa liar, ekosistem, dan lingkungan."

Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim telah menyebabkan cuaca sangat buruk seperti gelombang panas di Eropa di tahun 2019, serta badai topan yang pernah menghantam Kepulauan Bahamas di Karibia dan menewaskan sedikitnya 50 orang.

Dalam kesepakatan yang dicapai di Paris tahun 2015, dunia menyetujui untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, sehingga pemanasan global tidak melebihi 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X