Peduli Perubahan Iklim, Ini Isu dan Agenda Tingkat Dunia yang Perlu Diketahui

Kompas.com - 25/01/2020, 17:03 WIB
Joaquin Phoenix ikut dalam protes perubahan iklim di Washington DC, 10 Januari 2020 Paul Morigi/Getty ImagesJoaquin Phoenix ikut dalam protes perubahan iklim di Washington DC, 10 Januari 2020

Bahkan, masih dalam laporan NOAA, sembilan dari sepuluh bulan Juni yang terpanas terjadi sejak 2010.  Hal ini membuat dekade 2010-2019 menjadi yang terpanas.

Tak hanya itu, tahun lalu beberapa negara di Eropa mengalami rekor suhu terpanasnya, sedangkan gelombang panas melanda Australia dengan suhu hingga 40 derajat Celsius.

Dengan kondisi seperti ini, tak pelak cuaca ekstrem akan menjadi langganan setiap tahun.

Kebakaran hutan

Deforestasi di Brasil terus melonjak hingga tahun lalu. Deforestasi ini kemudian memicu kebakaran hutan Amazon yang menghanguskan 4,6 juta hektar lahan.

Baca juga: NASA: Asap Kebakaran Hutan Australia Menyebar ke Seluruh Dunia

Dikutip dari CNN, Minggu (1/9/2019), para pakar menyebut wilayah di hutan Amazon sedang mengalami kemarau tapi lebih basah dari tahun-tahun sebelumnya. Ahli pun menyebut kebakaran tersebut tidak bersifat alami.

Tak hanya itu, pada 2019 lalu kebakaran semak juga kembali melanda Australia hingga mencapai 14,6 juta hektar.

Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kembali terjadi dan mengakibatkan hampir 900.000 hektar lahan terbakar.

Beberapa ilmuan pun meyakini kebakaran tersebut disebabkan krisis politik dari para pemimpin dunia. Sebab, beberapa kebakaran tersebut dilatarbelakangi alasan finansial.

Brasil, misalnya, Presiden Jair Bolsonaro secara terbuka mengatakan akan membuka lahan di hutan Amazon, meski mendapatkan tentangan keras dari pakar lingkungan.

Baca juga: Kebakaran Hutan Australia, Ini 6 Fakta yang Harus Anda Tahu

Di Indonesia, kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan diduga terjadi guna membuka lahan untuk penanaman kelapa sawit.

Energi terbarukan

The Guardian mengutip Agensi Internasional untuk Energi (IEA) menyebut, persediaan energi terbarukan terus bertambah dengan cepat. Diperkirakan dalam lima tahun mendatang persediaan energi terbarukan akan bertambah 50 persen. 

Laporan tersebut memprediksi pada 2024 nanti energi matahari akan murah dan pertumbuhannya dapat mencapai 600 Giga Watt (GW).

Pertumbuhan ini pun diharapkan akan mencapai 1.200 GW dalam lima tahun mendatang. Angka ini setara dengan jumlah kapasitas listrik di Amerika Serikat.

Baca juga: Dibanding Matahari, Arus Laut Lebih Potensial Jadi Energi Terbarukan

Kabar baik ini pun harus terus didukung guna mengganti bahan bakar fosil yang menaikkan konsentrasi karbon dan menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X