Menyerang Organ, Bagaimana Proses Virus Corona Menginfeksi Manusia?

Kompas.com - 17/02/2020, 13:03 WIB
Ilustrasi virus corona ShutterstockIlustrasi virus corona

KOMPAS.COM Virus corona Wuhan yang kini diberi nama Covid-19 telah menewaskan lebih dari 1.500 orang secara global. Jumlah ini melampaui angka kematian SARS dalam hitungan minggu.

SARS, MERS, maupun Covid-19 mewabahi dunia karena virus corona yang ditularkan melalui hewan ke manusia.

Baca juga: Update Virus Corona 17 Februari: 1.775 Meninggal dan 71.334 Terinfeksi

Bagaimana proses virus corona ini menginfeksi tubuh Anda? 

Dilansir dari National Geographic, Senin (17/2/2020), Covid-19 memiliki genetik yang mirip dengan SARS. Oleh karena itu, para peneliti mempelajari SARS dan MERS untuk mengetahui jawaban dari virus corona Wuhan.

Paru-paru sebagai permulaan

Bagi sebagian besar pasien, Covid-19 dimulai dan berakhir di paru-paru mereka. Virus ini menyebabkan gejala seperti flu, sehingga dikatakan penyakit pernapasan.

Mereka menyebar dengan khas ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, menyemprotkan tetesan yang dapat menularkan virus kepada siapa pun yang berada dalam kontak dekat. Setelah itu, pasien mungkin memulai penyakit dengan demam dan batuk, kemudian berkembang menjadi pneumonia atau semakin memburuk.

Setelah wabah SARS, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa penyakit ini biasanya menyerang paru-paru dalam tiga fase. Yaitu fase replikasi virus, hiper-reaktivitas imun, dan perusakan paru-paru. Namun, tidak semua pasien menjalani ketiga fase ini.

Baca juga: Gambar Virus Corona Wuhan Covid-19 Dirilis, Begini Penampakannya

Menurut data awal, 82 persen dari kasus Covid-19 menyebabkan gejala yang lebih ringan, sedangkan sisanya parah atau kritis.

Menurut profesor rekanan Fakultas Kedokteran Universitas Maryland, Matthew B. Frieman, virus corona Wuhan nampaknya mengikuti pola dari SARS, setelah dia mempelajari virus corona yang sangat patogen.

Pada hari-hari awal infeksi, virus corona Wuhan dengan cepat menyerang sel-sel paru-paru manusia. Sel-sel paru itu datang dalam dua kelas, sel yang membuat lendir dan sel dengan tongkat seperti rambut atau disebut silia.

Meskipun kotor ketika berada di luar tubuh, lendir membantu melindungi jaringan paru-paru dari patogen dan memastikan organ pernapasan Anda tidak mengering. Sel-sel silia berdetak di sekitar lendir, membersihkan puing-puing seperti serbuk sari atau virus.

Baca juga: Indonesia Masih Negatif Virus Corona, Benarkah Tak Mampu Deteksi?

Frieman menjelaskan bahwa SARS menginfeksi dan membunuh sel silia, yang kemudian mengelupas dan mengisi saluran udara pasien dengan puing-puing dan cairan.

Selain itu, Frieman berhipotesis bahwa hal yang sama terjadi dengan virus corona Wuhan. Itu karena studi paling awal pada Covid-19 telah menunjukkan bahwa banyak pasien mengembangkan pneumonia di kedua paru-paru, disertai dengan gejala seperti sesak napas.

Saat itulah fase dua dan sistem kekebalan tubuh masuk. Karena dihadapkan dengan kehadiran penyerang virus, tubuh kita melangkah untuk melawan penyakit dengan membanjiri paru-paru dengan sel-sel kekebalan untuk membersihkan kerusakan dan memperbaiki jaringan paru-paru.

Ilustrasi pneumoniaShutterstock Ilustrasi pneumonia

Ketika bekerja dengan benar, proses inflamasi ini diatur dengan ketat dan hanya terbatas pada area yang terinfeksi. Tetapi kadang-kadang sistem kekebalan tubuh Anda rusak dan sel-sel itu membunuh apa pun di jalan mereka, termasuk jaringan sehat Anda.

"Jadi, Anda mendapatkan lebih banyak kerusakan daripada respon imun," kata Frieman. Bahkan lebih banyak puing menyumbat paru-paru, dan pneumonia memburuk.

Selama fase ketiga, kerusakan paru-paru terus meningkat. Hal ini yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan. Bahkan jika kematian tidak terjadi, beberapa pasien bertahan dengan kerusakan paru-paru permanen.

Baca juga: Apakah Ibu Hamil dapat Tularkan Virus Corona ke Janin? Studi Ungkap

Menurut WHO, SARS membuat lubang di paru-paru seperti sarang lebah. Lesi ini juga terjadi pada pasien penderita Covid-19. Lubang-lubang ini kemungkinan diciptakan oleh respons hiperaktif sistem kekebalan tubuh yang menciptakan bekas luka yang melindungi dan menegangkan paru-paru.

Ketika itu terjadi, pasien sering harus memakai ventilator untuk membantu pernapasan mereka. 

"Dalam kasus yang parah, Anda pada dasarnya membanjiri paru-paru dan Anda tidak bisa bernapas," kata Frieman. "Begitulah orang-orang sekarat."

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X