Apakah Ibu Hamil dapat Tularkan Virus Corona ke Janin? Studi Ungkap

Kompas.com - 13/02/2020, 12:57 WIB
Ilustrasi ibu hamil mudik dengan mobil. Ilustrasi ibu hamil mudik dengan mobil.

KOMPAS.COM - Para ilmuwan mulai mencari tahu apakah virus corona (COVID-19) dapat ditularkan dari ibu hamil kepada janinnya. Pasalnya, seorang bayi berusia 30 jam di Wuhan telah dinyatakan positif virus corona. Bayi tersebut lahir pada 2 Februari 2020 melalui persalinan normal.

Sebuah penelitian kecil mengawalinya dengan mengungkapkan bahwa kemungkinan virus  COVID-19 tidak dapat ditularkan selama kehamilan.

Namun, penelitian ini hanya melibatkan wanita hamil pada trimester ketiga yang melahirkan melalui operasi caesar.

Baca juga: Kabar Warga China Positif Corona Usai Kunjungi Bali, Ini Kata Kemenkes

Oleh karena itu, dilansir dari LiveScience (13/02/2020), para penulis studi berharap akan ada penelitian yang lebih lanjut untuk mengkonfirmasi penemuan tersebut. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada Rabu, 12 Januari dalam jurnal The Lancet.

“Tetapi dalam kasus itu, tidak jelas apakah transmisi di dalam rahim benar-benar terjadi. Bisa jadi bayi itu terkena virus setelah lahir dari kontak dekat, misalnya,” ujar penulis utama studi, Yuanzhen Zhang, seorang profesor di Rumah Sakit Zhongnan, Universitas Wuhan di Cina.

Baca juga: Tim Peneliti Inggris Mulai Pengujian Vaksin Virus Corona pada Tikus

Menurut The American College of Obstetricians dan Gynaecologists, beberapa infeksi memang dapat ditularkan dari ibu ke janin. Dimana patogen menular ke janin melalui plasenta atau melalui kontak dengan cairan tubuh selama persalinan.

Namun, perlu dicatat bahwa mode penularan ini tidak terlalu menonjol di antara virus, khususnya virus yang menyerang pernapasan seperti COVID-19.

Dalam studi baru, para peneliti menganalisis informasi dari sembilan wanita yang mengembangkan COVID-19 ketika mereka hamil 36 hingga 39 minggu, dan dirawat di rumah sakit di Wuhan.

“Ketika wanita melahirkan melalui operasi caesar, dokter mengumpulkan sampel cairan ketuban, darah tali pusat dan ASI, serta sampel dari tenggorokan bayi yang baru lahir. Semua sampel ini diambil di ruang operasi pada saat kelahiran sehingga mereka akan mewakili kondisi di dalam rahim,” kata para penulis.

Baca juga: Update Virus Corona 13 Februari: 1.368 Meninggal, 60.310 Terinfeksi

Hasilnya, tidak satupun wanita yang mengalami pneumonia parah akibat infeksi mereka, dan semua bayi yang baru lahir selamat. Terlebih lagi, tidak ada sampel dari cairan ketuban, darah tali pusat, ASI atau usap tenggorokan yang positif terkena virus.

"Temuan dari kelompok kecil kasus ini menunjukkan bahwa saat ini tidak ada bukti untuk infeksi intrauterin pada wanita yang mengembangkan COVID-19pada akhir kehamilan," catat penulis.

Tetapi para ilmuwan juga berharap adanya penelitian yang lebih banyak dan lebih lanjut mengenai wanita hamil di berbagai tahap kehamilan. Seperti pada trimester pertama dan kedua, serta bagi wanita yang melahirkan secara normal.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X