Kompas.com - 16/02/2020, 20:03 WIB
Anak-anak menikmati malam di dalam tenda di bawah cahaya alami bintang-bintang. SHUTTERSTOCK / KATRINA BROWNAnak-anak menikmati malam di dalam tenda di bawah cahaya alami bintang-bintang.

KOMPAS.com – Selama beberapa dekade terakhir, alergi serta asma menjadi penyakit yang umum ditemukan pada anak-anak terutama di negara berkembang.

Banyak anak yang alergi baik terhadap makanan, serbuk sari, debu, tungau, atau bulu hewan.

Ketika sesorang menderita alergi, sistem imun mereka secara otomatis percaya bahwa substansi yang menyebabkannya adalah zat berbahaya sehingga dibuatlah pertahanan.

Pertahanan ini bisa berupa gejala ringan seperti bersin dan hidung tersumbat, asma, sampai anaplylaxis (gejala seperti sesak napas dan tekanan darah rendah, yang berisiko kematian).

Baca juga: Alergi Obat Umumnya Bikin Bentol, tapi Ada Juga yang Picu Kematian

Banyak orang percaya bahwa kondisi alergi seperti ini disebabkan oleh orangtua dari si anak, yang tidak terekspos terhadap hal-hal yang “berbahaya” tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, penelitian baru-baru ini membuktikan bahwa alergi yang dialami anak juga dipengaruhi dari seberapa besar ia terkontaminasi mikroorganisme yang berada di alam.

Mengutip Science Alert, Minggu (16/2/2020), mikroorganisme tersebutlah yang membuat pertahanan sistem imun meningkat sehingga menurunkan risiko anak terkena alergi.

Hygiene hypothesis

Pada 1989, ilmuwan David Strachan meneliti pola alergi pada lebih dari 17.000 anak-anak di Inggris. Ia menemukan bahwa anak muda dari keluarga besar lebih jarang terkena alergi, dibanding anak muda dari keluarga yang kecil.

Hal ini berkaitan dengan seberapa banyak anak muda tersebut bermain di alam dan terpapar mikroorganisme. Menurut penelitiannya, anak yang lebih muda biasanya lebih “dibebaskan” dalam bermain serta dalam hal pemilihan makanan.

Baca juga: Terungkap, Alasan Reaksi Alergi Muncul dengan Cepat dan Menyakitkan

Banyaknya paparan mikroorganisme di alam ini membantu sistem imun anak “memerangi” alergi seperti debu dan serbuk sari. Strachan menyebut hipotesis ini sebagai hygiene hypothesis.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.