Si Kecil Alergi Protein Hewani, Apa yang Harus Dilakukan oleh Ibu? - Kompas.com

Si Kecil Alergi Protein Hewani, Apa yang Harus Dilakukan oleh Ibu?

Kompas.com - 10/02/2018, 19:35 WIB
Ilustrasithinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com -- Beberapa anak memiliki alergi terhadap protein hewani. Akibatnya. mereka tidak bisa diberikan susu sapi dan para ibu pun menjadi kebingungan mencari minuman pengganti yang tepat diberikan kepada sang anak.

Meta Herdiana Hanindita, dokter spesialis anak, menjawab dalam acara peluncuran buku barunya di Jakarta pada Jumat (9/2/2018). 

Meta menyarankan, jika alergi protein hewani dialami anak berumur enam bulan ke bawah, berarti sang ibu tidak diperbolehkan mengonsumsi apapun yang terkait dengan daging sapi. Dikhawatirkan, anak yang masih mengonsumsi ASI akan bereaksi.

“Apapun turunan makanan dari daging sapi, misalnya mentega, yogurt, coklat,dan keju, sebaiknya jangan dimakan ketika akan menyusui anak,” ujar Meta.

Meta menjelaskan, alergi pada anak bisa timbul secara langsung maupun tidak langsung.

Baca juga : Menjemur Anak Jangan Sembarangan, Ikuti Panduan Ini

Alergi langsung adalah ketika seusai mengonsumsi suatu makanan tertentu, tubuh anak menunjukkan reaksi penolakan seperti gatal-gatal, tubuh merah, dan bentul. Sementara itu, alergi tidak langsung yang dipicu oleh makanan yang dikonsumsi sang ibu atau ketika anak bereaksi setelah menyusu ASI dari ibu yang baru saja makan-makanan tertentu.

“Harus selalu dilihat, tiap ibu makan apa saja yang membuat anak jadi alergi,” kata Meta

Selama anak masih diberi asupan ASI, Meta berkata bahwa ibu masih tetap tidak diizinkan makan makanan variasi dari daging sapi meski anak telah berumur enam tahun ke atas.

Sebagai pengganti susu sapi, dokter tamatan program spesialis anak Universitas Airlangga ini menganjurkan susu ekstensif hidrolisa protein. Pada susu jenis ini, protein susu sapi dipecah jadi kecil sehingga beberapa anak masih bisa menoleransi kadar proteinnya.

Baca juga : Anak Susah Makan? Bisa Jadi Ada Gangguan Oromotorik

Sebaliknya, susu formula justru bukan opsi pertama yang disarankan oleh Meta, begitu pun dengan susu kedelai atau soya. Pasalnya, pemberian susu soya terkadang memancing timbulnya reaksi alergi silang dengan protein nabati.

“Meski sebenarnya susu ekstensif ini harganya lebih mahal daripada yang lain,” imbuh Meta.

Meta turut menginformasikan bahwa pemberian susu sapi sudah diperbolehkan semenjak anak berusia satu tahun ke atas. Syarat yang harus dipenuhi adalah anak sudah memiliki kinerja makan yang baik dan sudah mau diberi asupan susu sapi.

Sementara itu, apabila anak kekurangan zat besi, susu formula lebih dianjurkan untuk diberikan kepada anak dibanding susu UHT. “UHT tidak difortifikasi zat besi, hanya 0,1 persen,” terangnya.


Komentar
Close Ads X