Ilmuwan Berlomba Ciptakan Vaksin Virus Corona, Akankah Berhasil?

Kompas.com - 29/01/2020, 17:03 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

"Jika kita tidak mengalami hambatan yang tidak terduga, kita akan bisa menjalankan uji coba Fase 1 dalam tiga bulan ke depan, yang akan menjadi rekor kecepatan," katanya.

Sementara itu, peneliti lain menggunakan metode yang berbeda untuk mengembangkan vaksin mereka.

Baca juga: Terobosan Signifikan, Ahli Duplikat Virus Corona untuk Tangani Wabah

Inovio, yang juga mengembangkan vaksin untuk MERS, menggunakan teknologi berbasis DNA. Sedangkan Johnson & Johnson memberikan vaksin melalui adenovirus - yang dapat menyebabkan gejala seperti pilek tetapi tidak berbahaya.

Para peneliti di Universitas Queensland juga sedang menguji partikel yang meniru struktur virus.

“Kami tidak tahu pendekatan vaksin mana yang akan berhasil pada tahap ini, jadi kami harus mencoba segalanya dalam gudang senjata kami,” kata Dr Gregory Poland, pakar vaksin di Mayo Clinic di Rochester, Minnesota.

Paul Stoffels, Kepala Petugas Ilmiah Johnson & Johnson, memperkirakan diperlukan delapan hingga 12 bulan sebelum vaksin perusahaannya mencapai uji klinis pada manusia.

"Anda harus berani dan Anda harus menjadi perusahaan yang kuat untuk melakukan ini, karena tidak ada insentif nyata untuk melakukan ini, tidak ada insentif keuangan," katanya.

Baca juga: Dampak Virus Corona, Wuhan Dijuluki Kota Zombi dan Diisolasi

Stéphane Bancel, Kepala Eksekutif Moderna, mengatakan vaksin diperlukan bahkan jika wabah berkurang. Karena wabah bisa jadi akan kembali. 

Para ahli percaya bahwa frekuensi wabah akan meningkat karena perubahan iklim, urbanisasi dan perjalanan global, serta beberapa faktor lainnya.

“Kita mungkin perlu mulai berpikir tentang menempatkan infrastruktur khusus untuk infeksi virus corona dengan cara yang sama dengan yang kita miliki untuk flu,” kata Dr. Peter Hotez, yang merupakan co-direktur Pusat Pengembangan Vaksin Anak Rumah Sakit Texas dan terlibat dalam produksi vaksin SARS.

Menurutnya, deteksi dan pemantauan infeksi serta pengembangan vaksin akan menempatkan kebijakan asuransi untuk wabah di masa depan.

"Kami baru mulai menyadari bahwa kekuatan vaksin jauh melampaui kesehatan masyarakat,” tutup Dr Peter.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X