Kompas.com - 29/01/2020, 17:03 WIB

"Jika Anda dapat memblokir protein lonjakan dari pengikatan ke sel, maka Anda telah secara efektif mencegah infeksi," kata Kizzmekia Corbett, pemimpin ilmiah untuk tim virus corona.

Baca juga: [REAL TIME - LIVE] - Pantau Sebaran Virus Corona di Sini

Dr Corbett dan yang lainnya telah mempelajari protein lonjakan pada virus SARS dan MERS secara rinci, menggunakannya untuk mengembangkan vaksin eksperimental.

Vaksin tidak pernah berhasil dipasarkan karena SARS berhasil diatasi dengan langkah-langkah kesehatan masyarakat sebelum vaksin siap. Percobaan awal manusia untuk vaksin MERS menunjukkan keberhasilan pada Januari 2018.

Tetapi para ilmuwan memiliki metode untuk mengembangkan vaksin yang dapat membantu mereka mempercepat produksi untuk virus corona baru. Mereka menggunakan template untuk vaksin SARS dan menukar kode genetik yang cukup yang akan membuatnya bekerja untuk virus baru.

"Saya menyebutnya plug and play," kata Dr. Corbett.

Dalam beberapa jam, Dr Corbett dapat menyiapkan urutan modifikasi yang dibutuhkan oleh para peneliti. Pada hari Selasa, 14 Januari, tim mengadakan panggilan konferensi untuk membahas langkah-langkah selanjutnya dengan kolaborator di laboratorium di seluruh negeri dan mengirim urutan ke Moderna.

Para ilmuwan berencana untuk menggunakan informasi genetik untuk membuat RNA messenger sintetis, yang membawa instruksi untuk mesin pembuat protein sel.

Teknologi ini akan membantu menginduksi tingkat antibodi yang tinggi yang dapat mengidentifikasi protein lonjakan serta melawan infeksi.

Dr Corbett mengatakan bahwa begitu Moderna memproduksi RNA messenger dalam beberapa minggu, NIH akan menjalankan lebih banyak tes.

Baca juga: Hanya dengan Daya Tahan Tubuh Bagus, Bisakah Kita Sembuh dari Virus Corona?

Setelah itu, kolaborator di laboratorium akademik akan menguji vaksin pada tikus yang terinfeksi virus dan memeriksa sampel darah dari hewan tersebut untuk melihat seberapa baik vaksin eksperimental bekerja.

Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular di NIH mengatakan ia mengharapkan penelitian vaksin bisa bergerak cepat.

"Jika kita tidak mengalami hambatan yang tidak terduga, kita akan bisa menjalankan uji coba Fase 1 dalam tiga bulan ke depan, yang akan menjadi rekor kecepatan," katanya.

Sementara itu, peneliti lain menggunakan metode yang berbeda untuk mengembangkan vaksin mereka.

Baca juga: Terobosan Signifikan, Ahli Duplikat Virus Corona untuk Tangani Wabah

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.