Kompas.com - 26/09/2019, 11:17 WIB
Sejumlah pelajar saat beraksi dengan isu global Friday For Future di depan Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (15/3/2019). Aksi ini protes terhadap lambannya penanganan krisis pemanasan global di seluruh dunia. KOMPAS.com/Garry LotulungSejumlah pelajar saat beraksi dengan isu global Friday For Future di depan Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (15/3/2019). Aksi ini protes terhadap lambannya penanganan krisis pemanasan global di seluruh dunia.

Permasalahan yang Baru Muncul

Mungkin terdengar aneh, pemanasan yang terjadi baru-baru ini disebabkan oleh emisi gas rumah kaca yang memicu peningkatan banjir. Sementara di daerah-daerah tertentu, ada daerah yang mengalami presipitasi yang meningkat dan kekeringan di beberapa tempat.

"Secara historis, masyarakat paling terkena dampak oleh peristiwa iklim yang sama yang terjadi saat ini, yakni panas dan dingin yang ekstrim dan berkepanjangan, kekeringan dan juga banjir," kata Nathan Steiger, ilmuwan atmosfer dari Columbia University yang mempelajari dampak variasi iklim terhadap peradaban manusia, dilansir How Stuff Works (15/9/2019).

"Sering kali perubahan iklim di masa lalu terjadi bukan karena kesalahan mereka sendiri. Tapi kadang-kadang diperburuk oleh kesalahan manajemen manusia terhadap lingkungan," tambah Steiger.

Steiger mengacu pada erosi tanah yang didorong oleh pertanian sebagai contoh terakhir.

"Area yang kehilangan tanah yang kaya dan tebal cenderung lebih rentan untuk mengering, sehingga membuat kekeringan yang dialami lebih buruk dari yang seharusnya," jelasnya.

Baca juga: Pemanasan Global Membuat Manusia Jadi Kanibal, Benarkah?

Kemudian pada tahun ini, Steiger ikut terlibat dalam menulis studi komprehensif yang muncul dalam jurnal Nature.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menggunakan inti es, karang (sampel), catatan sejarah dan bukti lainnya, timnya meninjau sejarah perubahan iklim yang terjadi - besar atau kecil - selama dua milenium terakhir.

Selama jangka waktu tersebut, sejumlah periode menyimpang termasuk Anomali Iklim Abad Pertengahan yang luar biasa panas, berlangsung dari 800 hingga 1200 Masehi.

Sebagian besar peristiwa tersebut bersifat regional. Namun, Steiger dan rekan-rekannya menemukan bahwa untuk 98 persen planet ini, periode tunggal terpanas selama 2.000 tahun terakhir adalah akhir abad ke-20, ketika suhu global benar-benar melonjak.

Jadi, bisa dikatakan bahwa selama lebih dari 20 abad sejarah manusia, nenek moyang kita tidak pernah menghadapi fenomena terkait iklim yang secara universal berdampak - atau mengkhawatirkan seperti perubahan iklim modern. (Farren Anatje Sahertian)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.