Kompas.com - 21/12/2017, 17:31 WIB
|
EditorGloria Setyvani Putri

Pada Peringatan Dini Tsunami I, BMKG mencatat gempa berkekuatan 7,3 magnitudo dengan kedalaman 105 Km. Lokasinya berada di 8,03 lintang selatan dan 108,04 bujur timur atau 74 Km barat daya Kawalu.

Kemudian, perubahan muka laut perlu diketahui untuk mengonfirmasi terjadinya tsunami. Karena tak ada buoy, BMKG menggunakan data dari tide gauge. Lalu, peringatan dini tsunami III pun dikeluarkan.

Keberadaan tide gaude sendiri tersebar di Indonesia. BMKG sendiri punya tujuh tide gauge, tetapi masih ada 108 tide gauge milik Badan Informasi Geospasial dan 21 tide gauge miliki Organisasi Meteorologi Dunia (WTO). Totalnya ada 136 tide gauge yang dioperasikan BMKG.

“Lalu kami akan dapatkan konfirmasi data benar terjadi tsunami. Kalau memang iya, berapa ketinggiannya, berapa waktu kedatagan tsunami di titik itu, itu akan kami cek dari beberapa tide gauge yang lain di sekitar area gempa,” ujar Weniza.

“Setelah kita yakinkan bahwa kurvanya sudah menurun, kita akan bersiap untuk mengeluarkan peringatan dini tsunami ke IV atau pengakhiran. Kira-kira peringatan tsunami IV itu berdasarkan SOP itu akan kelar 2 jam setelah data observasi terakhir,” tambah dia.

Tetap Akurat

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono menjamin, meski tanpa buoy, sistem peringatan dini tsunami Indonesia masih tetap akurat. Meski demikian, menurut dia, buoy tetap diperlukan untuk menambah instrumen analisis.

“Karena semakin lengkap instrument untuk mengatakan bahwa gempa ini potensi tsunami. Kalau buoy di tengah laut. Kalau tide gauge tsunami sudah di pantai. Kami lebih yakin memberikan warning tsunami dan menyalakan sirine sebagai perintah evakuasi itu lebih mantab. Meskipun kalau kita memodelkan sudah tahu kalau ini tsunami,” kata Daryono.

Menurut Daryono telah terjadi lebih dari 300 tsunami di Indonesia. Jumlah ini masih bisa bertambah mengingat adanya zona subduksi seperti di selatan Jawa, barat Sumatra, selatan Bali, utara Papua, Laut Banda, utara Sulawesi, Maluku utara.

“Gempanya kapan kami tidak tahu. Di zona subduksi tadi minimal ada buoy,” ucap Daryono.

Baca juga : Para Peneliti Temukan Sisa Korban Tsunami 6.000 Tahun Lalu

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.