Kompas.com - 27/02/2020, 13:47 WIB
Petugas saat mengevakuasi warga menggunakan perahu karet saat banjir di Jalan Karet Pasar Baru, Karet Tengsin, Jakarta Pusat, Selasa (25/2/2020). Hujan deras sejak Senin dini hari membuat sejumlah daerah di Ibu Kota tergenang banjir. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas saat mengevakuasi warga menggunakan perahu karet saat banjir di Jalan Karet Pasar Baru, Karet Tengsin, Jakarta Pusat, Selasa (25/2/2020). Hujan deras sejak Senin dini hari membuat sejumlah daerah di Ibu Kota tergenang banjir.


KOMPAS.com - Ibukota kembali terendam banjir, setelah curah hujan yang tinggi mengguyur Jakarta dan sekitarnya pada 24 Februari lalu.

Lalu, apa solusi yang diperlukan untuk mengatasi banjir di Jakarta?

"Kalau bicara banjir, kita bicara ekosistem sungai, itu kaitannya dengan daerah aliran sungai," ujar Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Muhammad Fakhrudin saat dihubungi Kompas.com, Kamis (27/2/2020).

Artinya, kata Fakhrudin, manajemen banjir juga erat kaitannya dengan manajemen daerah aliran sungai, yang termasuk juga di dalamnya terkait masalah dari hulu ke hilir.

Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan jika Ada Peringatan Waspada Banjir dari BMKG?

Dari potret Jakarta, dia mengungkapkan ada sekitar 13 sungai besar yang mengalir di wilayah ibukota, termasuk sungai-sungai di Bekasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sungai-sungai ini (sebagian besar) hulunya sampai Kabupaten Bogor. Tinggal diklasifikasikan, kalau hulunya dikhususkan daerah-daerah resapan air, maka apa yang harus dilakukan," ungkap Fakhrudin.

Fakhrudin menegaskan daerah resapan air yang sangat baik adalah hutan. Namun, di kawasan hulu, tidak sedikit hutan yang sudah mulai beralih fungsi.

Reboisasi atau penghijauan hutan kembali, kata dia, dapat menjadi solusi untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai daerah resapan air yang paling baik.

Baca juga: Jakarta Banjir, BMKG Sebut Curah Hujan Tertinggi di Kemayoran

Sementara, apabila hutan beralih fungsi sebagai lahan pertanian, maka perlu adanya penerapan teknik-teknik konservasi tanah dan air.

"Namun, ternyata kontribusi pertanian (di daerah hulu) terhadap erosi tanah sangat tinggi sekali. Itu yang kadang dilupakan," kata Fakhrudin.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.