Kompas.com - 26/02/2020, 07:01 WIB
Beberapa anak di lapangan parkir Universitas Borobudur memanfaatkan genangan banjir sedalam lebih kurang 1 meter untuk berenang dan bermain air, Jakarta, Selasa (25/2/2020). KOMPAS.com/NABILLA RAMADHIANBeberapa anak di lapangan parkir Universitas Borobudur memanfaatkan genangan banjir sedalam lebih kurang 1 meter untuk berenang dan bermain air, Jakarta, Selasa (25/2/2020).


KOMPAS.com - Sejak awal tahun pada 2020, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) selalu memantau perkembangan cuaca Indonesia yang cenderung dianggap masuk kategori cuaca ekstrem.

Berdasarkan data historis serta analisis klimatologis BMKG, sejak tahun 1866 hingga 2019, proyeksi atau perkembangan perubahan iklim menjadi penyebab utama cuaca ekstrem yang terjadi hingga awal tahun 2020 ini.

Meskipun proyeksi atau pemantauan perkembangan perubahan iklim telah dilakukan sejak 1866, tetapi perubahan yang terjadi dalam bentuk cuaca ekstrem mulai terjadi sejak 1900-an.

"Ini bukan cuaca yang biasa saja, dari yang kami pantau adalah kondisi perkembangan cuaca ekstrem sejak tahun 1900-an sampai tahun 2020," kata Dwikorita Karnawati MSc selaku Kepala BMKG, Selasa (25/2/2020).

Baca juga: Jakarta Banjir Lagi, Berikut 6 Sejarah Banjir Terbesar di Ibu Kota

Dwikorita memaparkan, akumulasi curah hujan tertinggi awalnya terjadi pada tahun 1918, dengan curah hujan per hari mencapai 125,2 mm per hari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kemudian, kondisi ekstrem pada tahun 1918 itu terjadi lagi pada tahun 1950.

Pada pengulangan terjadinya kondisi ekstrem tersebut, BMKG memperhitungkan selisih jumlah tahun kondisi terulang.

Dari tahun 1918 menuju tahun 1950, membutuhkan waktu 32 tahun lamanya sampai bisa terjadi kondisi cuaca ekstrem.

"Sejak tahun berikutnya setelah itu, semakin singkat selisih tahunnya, dan intensitasnya semakin meningkat, yang tadinya hanya 125,2 mm per hari sekarang bisa mencapai 377 mm dalam satu hari. Itu terjadi pada awal tahun baru 2020," ujar Dwikorita.

Dia melanjutkan, ternyata kondisi kejadian fenomena cuaca dan iklim ekstrem menjadi semakin sering selama 30 tahun terakhir dengan intensitas yang semakin tinggi.

"Kondisi ekstrem ini kejadiannya semakin sering sejak 30 tahun terakhir dan jangka tahunnya semakin memendek. Hari ini adalah sebagian dari fenomena (cuaca ekstrem) yang panjang tadi," ungkap dia.

Proyeksi perkembangan perubahan iklim ini, kata dia, masih akan berlangsung hingga periode tahun 2040 mendatang.

Baca juga: Jakarta Banjir, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem Saat Ini

"Hal yang sama juga diproyeksikan akan terjadi di masa yang akan datang, periode tahun 2020-2040," kata dia.

Dari data yang telah dianalisis tersebut, menurut Dwikorita, perlu adanya lompatan dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Selain itu, perlu lebih ditingkatkan lagi koordinasi dan sinergi antara stakeholder terkait dalam penanganan bencana banjir.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.