Terbukti, Cuaca Ekstrem Saat Ini Terjadi Karena Ulah Manusia

Kompas.com - 04/02/2020, 16:06 WIB
ilustrasi hujan lebat Wavebreakmedia Ltdilustrasi hujan lebat

KOMPAS.com – Baru-baru ini, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) Dwikorita Karnawati menyebutkan, perubahan iklim mengakibatkan siklus hujan dapat datang dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Hujan intensitas esktrem itu ada siklusnya, tapi tampaknya siklus itu semakin memendek, yang biasanya 10 tahunan, 20 tahunan menjadi datang hanya dalam waktu lima tahun atau kurang,” jelasnya dikutip dari Kompas.com, Jumat (3/1/2020).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menambahkan, fenomena tersebut diperparah dengan terjadinya perubahan fungsi lahan, misalnya hutan menjadi bangunan.

Untuk itu, dia pun meminta pemerintah dan pengusaha untuk lebih memerhatikan keseimbangan alam dalam menjalankan usahanya.

Baca juga: Perubahan Iklim Picu Kenaikan Suhu, Ini Dampak pada Tanaman Pertanian

"Jangan sampai kita dapat keuntungan ekonomi besar tapi kerugian jiwanya juga besar," kata Doni.

Kondisi ini tentu meninmbulkan pertanyaan, apa yang terjadi dengan cuaca atau iklim? Apakah ada campur tangan  atau ulah manusia di sini? Apakah ada hubungannya dengan kacaunya siklus cuaca?

Hasil penelitian membuktikan

Dikutip dari National Geographic, Kamis (16/1/2020), hasil penelitian Institut Ilmu Atmosfer dan Iklim ETH Zurich mengungkapkan dampak perubahan cuaca hampir pasti terkait campur tangan manusia.

Dalam proyek tersebut, peneliti Reto Knutti mengatakan, dari stasiun luar angkasa setiap hari ilmuan dapat melihat campur tangan manusia pada perubahan iklim.

Baca juga: Peduli Perubahan Iklim, Ini Isu dan Agenda Tingkat Dunia yang Perlu Diketahui

Sejak 1970-an, peneliti sudah mencari sinyal terkait potensi campur tangan manusia pada perubahan iklim.

Pada saat yang sama, peneliti juga mengembangkan teknik untuk mencari tahu seberapa banyak sinyal tersebut berpengaruh kepada bertambahnya gas rumah kaca di atmosfer.

Gas rumah kaca adalah gas-gas di atmosfer yang menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang sehingga mampu memengaruhi suhu atmosefer bumi.

Gas ini sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia.

Baca juga: BMKG: Fenomena Salju di Tabuk, Arab Saudi, Bukti Nyata Perubahan Iklim

Nah, “sinyal” yang para peneliti cari adalah apa saja yang terjadi pada suhu dan kelembapan menurut catatan cuaca.

Hasilnya dibandingkan dengan prediksi model iklim terhadap pemanasan global jika dibuat tanpa campur tangan manusia.

Prediksi model iklim yang dimaksud merepresentasi interaksi matematis antara atmosfer, lautan, permukaan tanah, es, dan matahari.

Untuk mengetahui adanya sinyal tersebut, peneliti tinggal melihat seberapa jauh perbedaan hasil keduanya. Semakin berbeda, maka sinyal campur tangan manusia semakin kuat.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, Tanaman Tumbuh di Zona Tinggi Himalaya

Hasilnya, jika dilihat dari berbagai data, jejak perubahan iklim relatif mudah dilihat, misalnya dengan bukti rata-rata suhu udara atau laut global yang telah meningkat selama beberapa dekade.

Dalam dekade terakhir ini, suhu rata-rata atmosfer bumi sekitar 0,7 derajat celcius atau lebih hangat daripada masa pertengahan abad ke-20.

Walaupun begitu, dengan temuan-temuan ini para ilmuwan masih ragu-ragu untuk mengidentifikasi sinyal pemanasan global dalam cuaca lokal atau cuaca yang terjadi sehari-hari.

Sebab, masih banyak variabel yang melekat dalam cuaca dari satu tempat atau dalam satu hari.

Baca juga: Sebelum Perubahan Iklim Drastis, Apa Rencana Jangka Panjang Kita?

Apa yang ditemukan penelitian tersebut adalah sebuah pola yang bersembunyi dalam kekacauan cuaca harian global yang tidak jelas.

Peneliti mengandaikan hal itu seperti sebuah stasiun radio yang menunggu untuk diputar.

Temuan itu menyebutkan, sejak 2012, ada sinyal jelas tentang pemanasan global jangka panjang yang disebabkan oleh manusia.

Sementara itu, dikutip dari The Washington Post, Kamis (2/1/2020), Ilmuan Iklim Noaf Diffenbaugh dari Universitas Stanford mengatakan bukti pengaruh perubahan iklim pada cuaca harian merupakan tanda betapa kuatnya pengaruh perubahan iklim sekarang.

Baca juga: Wakil Ketua Komisi VIII Dukung Pembuatan RUU Mitigasi Perubahan Iklim

“Studi ini mencatatkan bukti penting bahwa perubahan iklim memengaruhi manusia, ekosistem, dan terjadi setiap hari di seluruh dunia,” ungkapnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X