Kompas.com - 17/12/2019, 12:04 WIB
Foto pertama lubang hitam yang didapatkan lewat observasi dengan Event Horizon Telescope (EHT) EHTFoto pertama lubang hitam yang didapatkan lewat observasi dengan Event Horizon Telescope (EHT)

KOMPAS.com - Beragam sejarah astronomi dan fenomena langit yang mengesankan terjadi tahun ini.

Mulai dari satelit China yang berhasil menyentuh sisi jauh bulan pada awal tahun 2019, kemudian untuk pertama kalinya lubang hitam tertangkap kamera, dan berbagai fenomena langit nan cantik.

Salah satu fenomena langit itu adalah komet yang datang dari antarbintang, hujan meteor deras pekan lalu, hingga Gerhana Matahari Cincin (GMC) yang bakal terpantau di sejumlah wilayah Indonesia setelah natal nanti.

Berikut beberapa sejarah astronomi dan fenomena langit sepanjang 2019 yang telah kami rangkum untuk Anda:

Baca juga: Kaleidoskop 2019: 4 Kontroversi Medis, dari Sarwendah hingga Bajakah

1. Satelit China di Sisi Jauh Bulan

Panorama sisi jauh bulan yang diambil oleh wahana antariksa China Panorama sisi jauh bulan yang diambil oleh wahana antariksa China

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada 21 Mei 2018 China meluncurkan satelit untuk menyelidiki sisi jauh bulan.

Pada 3 Januari 2019, pukul 10:26 waktu Beijing atau 07:26 WIB, wahana penjelajah Chang'e-4 mendarat di lembah Aitken di Kutub Selatan Bulan.

Wahana ini membawa instrumen untuk merumuskan geologi kawasan, serta melakukan percobaan biologi.

Media pemerintah menyebut pendaratan itu merupakan tonggak penting dalam eksplorasi ruang angkasa. Ini merupakan kali pertama sebuah pesawat mendarat di sisi jauh Bulan yang belum pernah dijelajahi.

Misi-misi sebelumnya yang dilakukan Amerika dan Rusia dilakukan di sisi Bulan yang menghadap Bumi.

Keberhasilan China ini akan membuka jalan bagi negara itu untuk mengirimkan sampel batuan dan debu Bulan ke Bumi.

Wahana Chang'e-4 bertugas mengeksplorasi tempat yang disebut kawah Von Kármán, yang terletak di dalam Cekungan Aitken Kutub Selatan (SPA) yang jauh lebih besar, diperkirakan terbentuk oleh benturan hebat di awal sejarah Bulan.

"Struktur besar ini memiliki diameter lebih dari 2.500 km dan kedalaman 13 km, salah satu kawah benturan terbesar di Tata Surya dan cekungan terbesar, terdalam dan tertua di Bulan," ujar Andrew Coates, pakar fisika di Mullard Space Science Laboratory, UCL, Surrey, Inggris.

Baca selengkapnya: Ciptakan Sejarah, Wahana Antariksa China Mendarat di Sisi Jauh Bulan

 

2. Untuk pertama kalinya Lubang Hitam tertangkap kamera

2,5 abad setelah gagasan lubang hitam muncul, manusia untuk pertama kali berhasil menyaksikan lubang hitam dan memotretnya. Ya, dan ini terjadi pada April 2019.

Selama ini, rupa obyek yang kemudian dikenal dengan nama lubang hitam (black hole) itu selalu dicari. Jika ada foto lubang hitam yang beredar, itu hanya ilustrasi berdasarkan gagasan yang ada.

Seperti terlihat dalam gambar, wujud lubang hitam persis seperti imajinasi ilmuwan dan film fiksi ilmiah Hollywood yang pernah beredar.

"Yang kita lihat adalah obyek yang jauh lebih besar dari ukuran keseluruhan tata surya kita. Massanya 6,5 miliar kali lebih besar dari Matahari. Ini juga merupakan salah satu lubang hitam terbesar di alam semesta yang kita pikirkan. Ini betul-betul monster, raja dari segala lubang hitam di alam semesta," kata Heino Falcke dari Radboud University di Belanda yang merupakan salah satu pengusul proyek riset.

Gambar lubang hitam (black hole) yang dapat dipotret berada di galaksi M87, berjarak 500 triliun kilometer dari Bumi.

Benda monster itu dapat dipotret berkat usaha bersama mengamati menggunakan 8 teleskop di sejumlah wilayah dunia yang keseluruhan perangatnya dinamai Event Horizon Telescope (EHT).

Menurut Marufin Sudibyo, astronom amatir Indonesia, foto lubang hitam ini adalah salah satau penemuan terpenting abad ke-21 dari bidang sains.

Selain itu, foto ini dapat dijadikan bukti bahwa omongan Albert Einstein terbukti benar.

Baca selengkapnya: Berhasil Dipotret Pertama Kali, Ini 5 Fakta Tentang Lubang Hitam

3. Komet Borisov dari ruang antarbintang

Komet Borisov (magnitudo semu +16) bersebelahan dengan galaksi NGC 3513 saat berada di rasi bintang Crater kala diabadikan dengan teleskop raksasa Gemini North (Hawaii) pada 11 Nov 2019 lalu.NSF/Gemini North Komet Borisov (magnitudo semu +16) bersebelahan dengan galaksi NGC 3513 saat berada di rasi bintang Crater kala diabadikan dengan teleskop raksasa Gemini North (Hawaii) pada 11 Nov 2019 lalu.

Benda langit itu tampak sebagai bintik cahaya samar dengan bentuk ekor tak kalah samar. Sangat redup, kecerlangannya hanya 1 persen dari planet–kerdil Pluto nan legendaris.

Gennady Borisov, astronom amatir Ukraina yang bekerja sebagai insinyur di Sternberg Astronomical Institute di Crimea, menjadi orang pertama yang menyaksikannya pada Jumat malam 30 Agustus 2019 waktu setempat.

Borisov merekamnya melalui teleskop reflektor 65 sentimeter buatan sendiri. Siapa sangka, komet tersebut ternyata datang dari ruang antarbintang.

Komet Borisov adalah benda langit ketiga yang berasal dari ruang antarbintang yang ditemukan manusia sepanjang sejarah.

Saat ditemukan, komet ini berjarak 404 juta kilometer dari Matahari kita dan sedang bergerak mendekat ke sang surya menuju titik perihelionnya. Titik perihelion itu dicapai pada 9 Desember 2019 ini, sejarak 293 juta kilometer.

Saat komet Borisov sangat dekat degan Bumi pekan lalu, Indonesia sulit melihatnya karena cahaya sangat redup dan tertutup cahaya Bulan purnama.

Observasi komet Borisov ini penting guna lebih memahami semesta khususnya komposisi bahan penyusun sistem keplanetan di luar tata surya kita.

Juga penting artinya dalam memitigasi potensi ancaman dari langit. Seperti diperlihatkan dalam kasus asteroid 08012014, benda–benda langit dari ruang antarbintang pun punya potensi menumbuk Bumi menciptakan hantaman kosmik.

Baca selengkapnya: Komet yang Datang dari Ruang Antarbintang

4. Hujan Meteor Geminid

Ilustrasi hujan meteor Geminid Ilustrasi hujan meteor Geminid

Hujan meteor Geminid pada tahun ini sudah mulai muncul sejak 4 Desember 2019. Namun, aktivitasnya memuncak pada Jumat dan Sabtu, 13-14 Desember 2019.

Wilayah Indonesia sebenarnya dapat melihat hujan meteor Geminid, tetapi adanya bulan purnama membuat kondisi langit sangat cerah dan sulit untuk melihat fenomena tersebut.

American Meteor Society (AMS) juga menyebutkan, akhir pekan ini ada bulan purnama yang 96 persen hampir penuh. Hal ini menyebabkan cahaya bulan membuat hujan meteor sulit terlihat.

"Bulan purnama membuat hujan meteor Geminid sulit terlihat tahun ini," kata Robert Lunsford dari AMS, dilansir Newsweek, Selasa (10/12/2019).

"Kalau biasanya kita dapat melihat lebih dari 100 meteor Geminid per jam di area pedesaan, tahun ini mungkin hanya 20 meteor," imbuh Lunsford.

Hujan meteor Geminid berasal dari rasi bintang Gemini. Inilah kenapa dinamai hujan meteor Geminid.

Diwartakan Space.com, hujan meteor Geminid cenderung cerah dan berwarna pekat. Puing-puing yang menghasilkan Geminid diperkirakan berasal dari asteroid 3200 Phaethon.

Setiap tahun, antara tanggal 4 sampai 17 Desember, Bumi melintasi jalur orbit Phaethon di sekitar matahari dan beberapa puing yang ditinggalkan asteroid jatuh ke atmosfer Bumi, akhirnya terbakar menjadi meteor.

Baca selengkapnya: Puncak Hujan Meteor Geminid Besok Malam Bisa Terlihat, asal...

5. Gerhana Matahari Cincin

Ilustrasi Gerhana Matahari Cincin Ilustrasi Gerhana Matahari Cincin

Jika pada 26 Desember 2019 nanti berada di Sumatera atau Kalimantan, Anda sangat mungkin menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Cincin (GMC).

Gerhana matahari cincin terjadi ketika Bulan berada segaris dengan Bumi dan Matahari, serta Bulan berada pada titik apogee (terjauh).

Piringan bulan akan tampak lebih kecil dibanding piringan matahari, hingga tidak menutupi seluruhnya. Kerucut umbra tidak sampai ke permukaan Bumi dan akan terbentuk kerucut tambahan yang disebut antumbra.

Secara umum GMC terjadi 1-2 kali setiap tahun. GMC terakhir terjadi pada tanggal 26 Februari 2017. GMC dalam 6 tahun ke depan akan terjadi pada tanggal 26 Desember 2019, 21 Juni 2020, 10 Juni 2021, 14 Oktober 2023, dan 2 Oktober 2024.

"Dari semua tanggal ini, hanya gerhana pada tahun 2019 yang dapat diamati dari wilayah Indonesia," tulis LAPAN dikutip dari artikel kompas.com (9/12/2019).

Fenomena ini akan melintasi 7 provinsi di Indonesia, yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur.

Berikut adalah rincian kota mana saja yang akan menyaksikan GMC.

  • Sumatera Utara: Sibolga dan Padang Sidempuan.
  • Riau: Siak, Duri, Pulau Pedang, Pulau Bengkalis, Pulau Tebing Tinggi, dan Pulau Rangsang.
  • Kepulauan Riau: Batam dan Tanjung Pinang.
  • Kalimantan Barat: Singkawang.
  • Kalimantan Utara: Makulit dan Tanjung Selor.
  • Kalimantan Timur: Berau.

"Kota Siak dan Singkawang adalah dua di antara kota-kota yang dilintasi (GMC)," ungkap Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin kepada Kompas.com melalui pesan singkat, Selasa (1/10/2019).

Baca selengkapnya: Akhir Tahun, Riau dan Singkawang akan Saksikan Gerhana Matahari Cincin

Sumber: Kompas.com (Gloria Setyvani Putri, Shierine Wangsa Wibawa, Resa Eka Ayu Sartika,

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.