Kompas.com - 06/12/2019, 19:32 WIB
Ilustrasi babi ShutterstockIlustrasi babi

KOMPAS.com - Sejak bulan Agustus 2019 sampai awal Desember 2019, sudah ada 20.500 ekor babi yang mati di Sumatera Utara.

Pengamatan gejala klinis di lapangan, perubahan patologi, dan pengujian laboratorium di Balai Veteriner Medan terhadap sampel darah dan organ yang berasal dari babi yang mati (sakit) pada bulan Oktober dengan menggunakan RT PCR menunjukkan sejumlah sampel positif terhadap virus African Swine Fever (ASF).

Apa itu ASF?

Dijelaskan oleh Ketua Umum PDHI, Drh H Muhammad Munawaroh MM, penyakit ASF merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus ASF dari genus Asfivirus dan famili Asfarviridae.

"Penyakit ini berbeda dengan penyakit kolera babi atau hog cholera atau classical swine fever (CSF), yang disebabkan juga oleh virus, namun virusnya yang berbeda," kata Munawaroh kepada kompas.com, Jumat (6/12/2019).

Baca juga: 4.682 Babi di Sumut Mati karena Penyakit Hog Cholera, Apa Itu?

Virus CSF dari genus Pestivirus dan famili Flaviviridae, tetapi kedua penyakit tersebut tidak dapat diobati dengan antibiotik karena bukan disebabkan oleh bakteri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penyebaran ASF di Indonesia

Penyakit ASF menyerang hewan babi, baik domestik ataupun babi liar, dengan tingkat kematian tinggi pada babi yang terinfeksi.

"ASF ini terjangkit di hampir semua negara, dan juga termasuk virus yang sangat mudah dan cepat sekali penyebarannya," jelasnya.

Menurut Munawaroh, penyebaran yang terjadi di Sumatera Utara Indonesia sangat mungkin sekali disebabkan oleh seseorang yang datang ke sana membawa produk daging babi atau makanan babi yang sudah terinfeksi oleh virus ini.

"Virus ini sangat mudah menyerang, mungkin saja ada yang membawa produk daging babi atau makanan untuk babi yang sudah terinfeksi, kemudian babi setempat diberi makanan sisa (yang terinfeksi) dari pesawat itu juga bisa terjadi penularan," tuturnya.

Namun, hingga saat ini, di Indonesia baru Sumatera Utara yang teridentifikasi terjadi penyebaran virus ASF ini.

"Tetapi bukan berarti daerah lain akan aman dari ASF ini jika tidak segera dilakukan pencegahannya. Karena selain cepat menyebar, virus ini juga tidak ada obatnya," ujar dia.

Baca juga: Ilmuwan Hidupkan Otak Babi yang Sudah Mati, Ini Artinya bagi Kita

Penularan virus ASF

Penularan virus ASF antar babi terjadi akibat kontak dengan babi yang sakit, serta kontak dengan cairan yang keluar dari babi sakit atau mati seperti air kencing, kotoran, air liur, dan darah.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.