Kompas.com - 24/11/2019, 10:04 WIB
Ilustrasi mikroba. Tribun BanjarmasinIlustrasi mikroba.

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan resistensi antimikroba (AMR) sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan masyarakat global saat ini.

AMR dapat memengaruhi tidak hanya kesehatan manusia, namun juga kesehatan hewan dan lingkungan yang berperan di sekitar.

Saat ini, sekitar 700.000 kematian per tahun dikaitkan dengan resistensi antimikroba, dan juga banyaknya jumlah hewan ternak yang mati akibat tidak mampu mengendalikan infeksi.

Baca juga: Kenali Resistensi Antibiotik, Satu dari 10 Besar Ancaman Kesehatan Global

Ironisnya, jika tanpa adanya upaya pengendalian global, AMR diprediksi akan menjadi pembunuh nomor satu di dunia pada tahun 2050 dengan tingkat kematian mencapai 10 juta jiwa per tahun.

Jika hal itu terjadi, maka itu akan melampaui kematian yang disebabkan penyakit jantung, kanker dan diabetes. Bahkan akan menimbulkan krisis ekonomi global.

Apa itu AMR?

Pada umumnya banyak orang hanya mengenal antibiotik. Nah, antibiotik hanyalah bagian dari antimikroba (AMR).

Mikroba melingkupi di dalamnya berbagai organisme yaitu virus, bakteri (bios/biotik), jamur, protozon ataupun parasit. Oleh karena itu, antimikroba (AMR) merupakan obat yang penting untuk mengobati infeksi pada manusia dan hewan yang diakibatkan oleh organisme jahat mikroba yang menyerang tubuh.

Sifat dari antimikroba adalah menghambat perkembangbiakan organisme jahat yang ada tersebut.

Dokter anak Purnamawati Sujud SpA, mengatakan bahwa antimikroba ini baik untuk pengobatan. Tapi kalau tubuh sudah resisten (menolak) terhadap antimikroba ini maka penyakit akan sulit disembuhkan.

"Antimikroba adalah satu jenis obat-obatan yang memiliki fungsi untuk membunuh atau menghambat laju pertumbuhan mikroba, dimana salah satunya adalah antibiotik. Dan antibiotik digunakan untuk menyembuhkan infeksi bakteri pada manusia dan hewan," kata Wati dalam acara pekan kesadaran antibiotik sedunia 2019 di Lampung, Kamis (21/11/2019).

Baca juga: 4 Penyebab Munculnya Resistensi Antibiotik

"Jadi memang, masyarakat pada umumnya mengenal yang namanya antibiotik. Kalau sakit mintanya diresepkan antibiotik, atau bahkan langsung beli antibiotik di toko obat, tapi itu sebenarnya tidak benar," imbuhnya.

Untuk diketahui oleh masyarakat, kata Wati, bahwa penggunaan antibiotik pada sakit yang diakibatkan oleh organisme bukan bakteri justru salah kaprah dan tidak membantu pengobatan. Melainkan membuat bakteri di tubuh resisten terhadap obat antibiotik.

Resisten AMR

Resisten AMR merupakan suatu ketidakmampuan antimikroba untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroba, sehingga penggunaannya sebagai terapi penyakit infeksi menjadi tidak efektif lagi.

Penggunaan antimikroba yang tidak tepat di sektor agrikultur (peternakan, pertanian, perikanan) dan kesehatan manusia mempercepat laju resisten bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik (superbugs).

Risiko resisten AMR adalah setiap kali antimikroba digunakan secara berlebihan atau digunakan secara tidak tepat, bakteri menjadi resisten terhadap mikroba.

Baca juga: Makhluk Tercerdik itu Bernama Mikroba

Begitu bakteri resisten, maka antimikroba menjadi tidak efektif dan tidak bisa lagi mengobati penyakit. Hal itulah yang dikenal dengan Antimicrobial Resistance (AMR) atau resisten antimikroba.

Perwakilan FAO Indonesia, drh Erry Setyawan menjelaskan jika seseorang menderita batuk atau flu, yang diberi obat antibiotik akan cenderung sangat berpotensi mengalami resisten antibiotik dan antimikroba.

Hal itu dikarenakan, penyebab batuk atau pilek adalah infeksi oleh organisme virus, bukan bakteri. Saat seseorang selalu berupaya menyembuhkan diri dari batuk atau pilek dengan mengkonsumsi antibiotik, yang diserang oleh antibiotik adalah bakteri dalam tubuh, bukan sumber penyakit yaitu virus.

"Jika resisten antimikroba itu terjadi, maka orang tersebut akan sulit menerima obat antimikroba yang standarnya diberikan saat dia mengidap sakit. Alhasil harus mencari antimikroba lain," kata Erry dalam kesempatan yang sama.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

9 Kali Gempa Susulan, BMKG Tegaskan Gempa Talaud Bukan Megathrust

9 Kali Gempa Susulan, BMKG Tegaskan Gempa Talaud Bukan Megathrust

Fenomena
Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Fenomena
Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Fenomena
Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Kita
Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Prof Cilik
Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Kita
Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.