Memahami Protes Franda dan Tren Pemberian Nama Unik untuk Anak

Kompas.com - 11/09/2019, 08:35 WIB
Pembawa acara Franda saat ditemui di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (3/4/2019). KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNG Pembawa acara Franda saat ditemui di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (3/4/2019).

Ketika suatu nama yang sangat pribadi disematkan untuk anak, hal ini disebut psikolog berhasil memuaskan ketertarikan tertentu dalam diri orangtua.

Selain kepuasan diri sendiri, psikolog menilai bahwa ketika seorang publik figur memberi nama "eksklusif" untuk anak, mereka sebenarnya sedang memberi warisan spesial sejak dini.

"Ada perasaan 'saya istimewa, saya berbeda. Oleh karena itu, anak saya juga istimewa dan berbeda'," kata psikolog klinis Jenn Berman menjelaskan soal warisan spesial sejak dini.

"Hal ini tidak disadari, tapi mereka berpikir, 'kita keluarga kreatif dan kamu (anak) memiliki potensi untuk jadi kreatif. Jadi saya memberi kamu nama unik'," imbuh Berman.

Psikolog lain, Stuart Fischoff, menilai bahwa beberapa orang beranggapan jika memberi nama anak yang biasa akan memalukan.

"Publik figur mengekspresikan kreativitas dan rasa takut lewat nama anak. Akan sangat memalukan jika dianggap biasa saja," kata Fischoff.

Kaum milenial tak pilih nama pasaran untuk anak

Namun, perlu disadari nama spesial tak hanya dimiliki anak-anak publik figur. Ada kecenderungan, kaum milenial lebih memilih nama yang tidak pasaran sejak satu dekade terakhir.

Riset tahun 2016 menyebut, kaum milenial cenderung memberi nama yang terdengar aneh dan asing untuk anak mereka.

Dalam laporan riset yang diterbitkan jurnal Applied Social Psychology, tim psikolog menganalisis 358 juta nama bayi dalam database Administrasi Keamanan Sosial AS. Dari data tersebut, tim menemukan bahwa orangtua milenial cenderung memakai nama-nama tak biasa.

"Ada kecenderungan bahwa orangtua menginginkan anak mereka lebih menonjol dan berbeda dibanding (nama) 10 tahun lalu," ujar Jean Twenge, seorang profesor psikologi di San Diego State University, seperti diberitakan Time, (29/9/2016).

Menariknya, studi ini menemukan bahwa anak laki-laki lebih mungkin memiliki nama umum dibanding anakk perempuan.

Baca juga: Menu Tulis Tangan Garuda dan Rius Vernandes, Kapan Kita Dibilang Cemarkan Nama Baik?

Selain itu, sedikit berhubungan dengan kasus anak Franda, Twenge menilai bahwa obsesi atau ketertarikan dengan para selebriti, termasuk anak-anak mereka juga berperan dalam peningkatan nama bayi yang unik.

"Orang-orang tertarik pada ketenaran selebriti, termasuk nama anak," ujar dia.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X