Kompas.com - 10/09/2019, 11:25 WIB
Ganda putra Indonesia Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan berusaha mengembalikan kok ke ganda putra Jepang Takuro Hoki dan Yugo Kobayashi pada babak final Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 di St. Jakobshalle, Basel, Swiss, Minggu (25/8/2019). Ahsan/Hendra keluar menjadi juara dunia ganda putra usai menang dengan skor 25-23, 9-21, 21-15. ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK AGanda putra Indonesia Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan berusaha mengembalikan kok ke ganda putra Jepang Takuro Hoki dan Yugo Kobayashi pada babak final Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 di St. Jakobshalle, Basel, Swiss, Minggu (25/8/2019). Ahsan/Hendra keluar menjadi juara dunia ganda putra usai menang dengan skor 25-23, 9-21, 21-15.

Jejak bulu tangkis mulai mendunia

Di tahun 1800-an, orang Inggris sebenarnya juga memiliki permainan tradisional yang populer di kalangan anak-anak. Nama permainan itu adalah Battledores and Shuttlecocks.

Anak-anak Inggris pada waktu itu menggunakan dayung atau tongkat (Battledores). Pemain harus menjaga agar kok tetap di udara dan jangan sampai menyentuh tanah atau lantai.

Permainan ini sangat populer di mainkan di jalanan London pada tahun 1854.

Orang Inggris kemudian membawa permainan ini ke Jepang, China, dan Siam (sekarang Thailand) selagi mereka mengolonisasi Asia. Permainan ini dengan cepat menjadi permainan anak-anak di wilayah setempat.

Beberapa sumber menyebut olahraga kompetitif bulu tangkis diciptakan oleh petugas Tentara Britania di Pune, India pada abad ke-19 saat mereka menambahkan jaring di tengah area permainan dan memainkannya secara bersaingan. Oleh sebab kota Pune dikenal sebelumnya sebagai Poona, permainan tersebut juga dikenal sebagai Poona pada masa itu.

Para tentara membawa permainan itu kembali ke Inggris pada 1850-an.

Namun ada juga yang mengatakan, permainan bulu tangkis mulai dikenal dunia pada abad ke-17 berkat Badminton House.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Disebutkan, keluarga Duke of Beaufort, pemilik Badminton House, mengadakan perlombaan bulu tangkis di Istana.

Lewat permainan Battledore and Shuttlecocks, panitia penyelenggara memodifikasi permainan dengan menggunakan tali di tengah area permainan. Pembatas tali inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya bulu tangkis modern.

Olah raga ini mendapatkan namanya yang sekarang (badminton) pada 1860 dalam sebuah pamflet oleh Isaac Spratt, seorang penyalur mainan Inggris, berjudul "Badminton Battledore - a new game".

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.