Kisah Maria Clara Yubilea, Berencana S2 di Amerika demi Pendidikan Gifted Indonesia (Bagian III)

Kompas.com - 04/09/2019, 17:45 WIB
Maria Clara Yubilea Sidharta atau biasa disapa Lala, yang divonis dokter sebagai anak berkebutuhan khusus, justru menyabet gelar sarjana dengan predikat cum laude pada Sabtu (31/08/2019) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan IPK 3,76 di usianya yang masih 19 tahun!. DOK. PRIBADI/PATRCIA-LALAMaria Clara Yubilea Sidharta atau biasa disapa Lala, yang divonis dokter sebagai anak berkebutuhan khusus, justru menyabet gelar sarjana dengan predikat cum laude pada Sabtu (31/08/2019) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan IPK 3,76 di usianya yang masih 19 tahun!.

KOMPAS.com - Memperoleh pendidikan dengan cara homeschool, membuat Maria Clara Yubilea Sidharta atau akrab disapa Lala memiliki banyak waktu menggali diri.

Karena Lala menaruh bakat pada seni dan bahasa, dia ikut berbagai macam kursus.

Mulai dari seni tari, seni musik, gambar, kursus bahasa Perancis, bahasa Jerman, mencoba otodidak bahasa Korea, Rusia, Italia, Belanda, Jepang, hingga Thailand.

Bagi Lala, belajar bahasa baru adalah sebuah hobi menyenangkan.

"Dalam bahasa pasti kan ada budaya yang kita pelajari. Dan saat belajar budaya baru, pikiran kita kan enggak jadi sempit," jelas gadis yang menguasai empat bahasa itu.

Baca juga: Kisah Anak Gifted Maria Clara Yubilea, Hobi Mogok Sekolah hingga Minta Homeschool (Bagian I)

Saat Lala sudah mendapat ijazah dari Ujian Kejar Paket C (Setara SMA) di usia 15 tahun, Lala tiba-tiba mengatakan ingin berkuliah.

"Kami kemudian berpikir. Ada baiknya memang dia kuliah. Saran dari hasil tes IQ, mengambil jurusan bahasa. Akhirnya diambillah bahasa yang belum ia kuasai, yaitu Pendidikan Bahasa Jerman," ungkap Patricia Lestari Taslim, Ibu Lala dijumpai di kediamannya.

Lala merupakan mahasiswa termuda di angkatannya. Dia masuk kuliah di usia 15 tahun lebih 3 bulan dan lulus paling muda dengan usia 19 tahun lebih 3 bulan.

Selama perkuliahan, dosen dan teman-teman Lala sangat memberi dukungan dalam belajar. Bahkan, Lala kerap dijadikan rebutan apabila terdapat tugas kelompok.

"Jadi lingkungan di UNY inklusif. Ada dua alasan sebenarnya. Pertama karena Lala masih imut, anak usia 15 tahun, dan kedua karena Lala cepat belajarnya. Setahun belajar Jerman, dia sudah fasih," kenang Patricia.

Untuk mendukung kegiatan belajar putrinya, Patricia sejak awal perkuliahan selalu mengantar jemput Lala yang masih di bawah umur.

Ibu ikut kuliah agar lebih memahami ABK

Selain aktif di komunitas, Patricia juga ikut mengambil S2 Pendidikan Luar Biasa UNY angkatan 2016, atau setahun setelah Lala masuk kuliah.

Namun setahun berjalan, Patricia merasa bosan jika hanya datang ke UNY untuk antar jemput. Terlebih lagi, kebutuhan khusus Lala terus berkembang seiring bertambahnya usia.

"Saya merasa tidak cukup bekal untuk membantu (Lala). Sudah bikin sakit kepala ini. Sehingga seizin suami saya ingin kuliah lagi, agar punya ilmu yang bermanfaat dalam mendidik Lala ataupun anak-anak gifted lainnya," ungkap Patricia atas pergolakan batin yang terjadi saat itu.

Akhirnya setahun setelah Lala mulai kuliah, Patricia mendaftar dan diterima di S2 Pendidikan Luar Biasa UNY angkatan 2016. Pada saat itu, Patricia merupakan satu-satunya mahasiswa yang tidak berlatar belakang pendidikan luar biasa di jenjang S1 nya.

Baca juga: Kisah Maria Clara Yubilea, Ketahuan Gifted Gara-gara Ujian Kejar Paket B (Bagian II)

"Saya guru seni musik. Lainnya teman saya, guru di SLB, dan anak-anak lulusan PLB. Alih jurusan bukan hal yang mudah ternyata karena saya belajar teori dari awal," kenang Patricia.

Perjalanan Patricia menempuh studi tidak mudah.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X