Wiranto Benar, Media Sosial Memang Bisa Mengeskalasi Kerusuhan 22 Mei

Kompas.com - 23/05/2019, 14:30 WIB
Suasana  pasca-kerusuhan di sekitaran Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (23/5/2019). Aksi unjuk rasa berujung ricuh terkait penetapan hasil rekapitulasi suara Pemilu 2019 oleh KPU terjadi di depan Kantor Bawaslu, berlangsung dari Selasa (21/5/2019) siang dan berlanjut hingga Rabu.ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA Suasana pasca-kerusuhan di sekitaran Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (23/5/2019). Aksi unjuk rasa berujung ricuh terkait penetapan hasil rekapitulasi suara Pemilu 2019 oleh KPU terjadi di depan Kantor Bawaslu, berlangsung dari Selasa (21/5/2019) siang dan berlanjut hingga Rabu.

KOMPAS.com – Dalam upaya mencegah provokasi dan penyebaran hoaks, pemerintah mengambil tindakan untuk membatasi akses media sosial pada 22 Mei 2019 kemarin.

Dikutip Kompas.com, Rabu (22/5/2019); Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengatakan, Kami adakan pembatasan akes di media sosial. Fitur tertentu untuk tidak diaktifkan untuk menjaga hal-hal negatif yang terus disebarkan masyarakat.

“Ada skenario untuk membuat kekacauan, menyerang aparat keamanan, dan menciptakan antipati kepada pemerintahan yang sah,” imbuhnya.

Walaupun membuat sebagian masyarakat Indonesia menjadi tidak nyaman, keputusan pemerintah untuk membatasi akses media sosial bukan tanpa alasan. Sains telah membuktikan bahwa media sosial memang bisa mengeskalasi kerusuhan 22 Mei 2019.

Baca juga: Demi Kesehatan, Berhentilah Terus Menerus Mencari Informasi Terkini

Sebuah studi yang dilaksanakan oleh para peneliti di University of Southern California (USC) dan dipublikasikan dalam Nature Human Behaviour pada 2018 menemukan bahwa retorika moral di Twitter bisa menjadi sinyal kapan sebuah protes akan berubah menjadi kekerasan.

Penulis studi Morteza Dehghani yang juga peneliti di Brain and Creative Institute USC berkata bahwa gerakan ekstrem bisa muncul melalui jaringan sosial.

“Kita telah melihat beberapa contohnya selama beberapa tahun terakhir, seperti protes di Baltimore dan Charlottesville, di mana persepsi masyarakat dipengaruhi oleh aktivitas di media sosial mereka. Mereka mengidentfikasikan orang lain yang memiliki kepercayaan serupa dan menganggapnya sebagai konsensus,” katanya.

“Dalam studi ini, kami menunjukkan bahwa hal ini berpotensi memiliki menimbulkan konsekuensi yang berbahaya,” imbuhnya lagi.

Baca juga: Efek Gas Air Mata pada Tubuh dan Penanganannya

Para peneliti mendapatkan kesimpulan tersebut setelah menganalisis 18 juta unggahan Twitter ketika protes Baltimore 2015. Mereka ingin mencari tahu asosiasi unggahan beretorika moral di media sosial dengan tingkat penahanan.

“Kami berfokus pada moralitas karena begitu sebuah protes dimuati moral secara cukup, ia menjadi masalah benar atau salah, bukan sekadar pilihan pribadi,” tulis para peneliti.

Untuk diketahui, protes Baltimore 2015 dipicu oleh meninggalnya seorang pemuda berusia 25 tahun, Freddie Gray, ketika sedang dibawa oleh polisi ke tahanan. Protes ini berlangsung berminggu dan beberapa kali diwarnai dengan kerusuhan.

Dalam mendeteksi retorika moral di Twitter, para peneliti melatih kecerdasan buatan (AI) dengan jaringan deep neural menggunakan 4.800 unggahan. Moral yang diteliti didasarkan pada “Moral Foundations Theory” yaitu: menyayangi/melukai, adil/curang, loyalitas/pengkhianatan, otoritas/subversi, kesucian/degradasi.

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X