Demi Kesehatan, Berhentilah Terus Menerus Mencari Informasi Terkini

Kompas.com - 22/05/2019, 19:54 WIB
Tampilan aplikasi Kompas.id di telepon seluler. Kompas.id resmi diluncurkan sebagai aplikasi pada 8 Maret 2018. Arsip Kompas.id Tampilan aplikasi Kompas.id di telepon seluler. Kompas.id resmi diluncurkan sebagai aplikasi pada 8 Maret 2018.

KOMPAS.com - Mengikuti informasi terkini dengan membaca media sosial maupun situs berita kini jadi tuntutan. Apalagi dalam situasi rusuh seperti yang terjadi Rabu (22/5/2019) di di Jakarta. 

Namun ada kalanya, terus menerus mengikuti informasi justru akan menghabiskan energi, lelah, emosi, stres, dan kadangkala terjebak oleh informasi palsu atau hoaks. Penting untuk mengikuti informasi secara efektif.

Sebuah survei yang dilakukan American Psychological Association, tentu saja di Amerika Setrikat, mengungkap bahwa mengikuti informasi tanpa henti justru menyakiti diri sendiri. Ini dialami oleh 1 diantara 10 responsen.

"Bagaimana informasi disajikan dan cara kita mengaksesnya telah berubah secara signifikan sejak 15 hingga 20 tahun terakhir. Perubahan ini kerap merusak kesehatan mental," ujar Graham Davey, profesor emeritus psikologi dari Universitas Sussex, Inggris, dilansir Time, (31/1/2018).

Davey yang juga menjadi pemimpin redaksi untuk Journal of Experimental Psychopathology menambahkan, infromasi di seluruh dunia cenderung dibuat bombastis sehingga bisa mengubah suasana hati menjadi sedih atau cemas.

"Studi kami menunjukkan, perubahan suasana hati dapat membuat penonton atau pembaca berita khawatir, meski kekhawatiran itu tidak berhubungan dengan informasi yang disiarkan," ujar Davey.

Ketika rasa cemas dan khawatir menumpuk, hormon kortisol yang berhubungan dengan stres akan memicu peradangan yang terkait dengan rheumatoid arthritis, penyakit kardiovaskular, dan penyakit serius lainnya.

Baca juga: Efek Gas Air Mata pada Tubuh dan Penanganannya

Jika paham bahwa informasi tertentu membuat cemas dan takut, kenapa kita masih membaca berita tersebut dan mengikuti perkembangannya?

Menurut Davey, itu karena otak manusia suka memperhatikan informasi yang membuat takut dan cemas. Konsep ini dikenal dengan bias negatif.

Loretta Breuning, mantan profesor manajemen di Universitas California, East Bay menjelaskan, otak manusia gemar mencari informasi yang "mengganggu" karena hal itu membantu untuk mendeteksi ancaman dan menghindari bahaya.

"Hal inilah yang membuat kita sulit mengabaikan berita negatif dan mencari hal positif. Otak manusia cenderung menjadi negatif, dan berita yang kita konsumsi mencerminkan hal ini," jelas Breuning.

Meski demikian, ahli lain mengatakan bahwa efek berita terhadap kesehatan mental bervariasi dari satu orang dengan orang lain.

" Berita bukan patogen menular seperti virus Ebola. Efek pemberitaan sangat rumit dan sulit memprediksi bagaimana orang merespons pemberitaan," ujar Chris Peter, seorang profesor media dan komunikasi di Aalborg University Copenhagen.

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X