Kompas.com - 22/06/2018, 09:07 WIB

KOMPAS.com - Para ilmuwan berhasil mengambil gambar fenomena semburan material ketika sebuah bintang "tertelan" oleh gaya gravitasi dari sebuah lubang hitam di inti galaksi, dan itu bukan ledakan supernova.

Dikutip dari Phys.org, Kamis (14/6/2018), para ahli mendapatkan petunjuk awal peristiwa semburan di lubang hitam tersebut pada 30 Januari 2005.

Saat itu, para astronom menggunakan Teleskop William Herschel di Kepulauan Canary sedang mengamati tabrakan dua galaksi yang disebut Arp 299. Peristiwa ini berjarak hampir 150 juta tahun cahaya dari Bumi.

UPDATE: Baca juga: Setelah 2,5 Abad, Gambar Lubang Hitam Pertama Terungkap. Ini Fotonya...

Lalu pada 17 Juli 2005, para ahli mendeteksi adanya sumber emisi baru pada gelombang radio yang berbeda dari lokasi yang sama. Saat itu, para ahli menggunakan teleskop sinar inframerah dan gelombang radio, termasuk teleskop yang ada di National Science Foundation Very Long Baseline Array (VLBA).

"Seiring waktu, objek baru tersebut tetap menyala dalam deteksi gelombang inframerah dan radio, namun tidak secara kasat mata dan X-ray," kata Seppo Mattila dari Universitas Turku di Finlandia.

Baca Juga: "Monster" Lubang Hitam Ini Sanggup Isap Benda Langit Seukuran Matahari

"Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa objek baru tersebut adalah gas tebal antar bintang dan debu di dekat pusat galaksi yang menyerap sinar-X dan cahaya yang terlihat, kemudian memantulkannya ulang sebagai inframerah," tambahnya.

Saat itu, para peneliti juga menggunakan Nordic Optical Telescope di Canary Islands dan teleskop ruang angkasa Spitzer NASA untuk melacak emisi inframerah dari objek baru tersebut.

Kurang lebih setelah satu dekade melakukan penelitian dengan menggunakan VLBA, jaringan VLBI Eropa (EVN) dan teleskop radio lainnya; para ahli akhirnya menunjukkan bahwa sumber emisi radio dari objek baru tersebut memanjang ke satu arah yang menyerupai sebuah semburan.

Dari ukuran panjangnya, para ahli mengungkapkan kecepatan semburan materinya adalah seperempat kecepatan cahaya. Untungnya, gelombang radio tidak ikut tersedot ke inti galaksi dan berhasil melaluinya untuk sampai ke Bumi.

Perlu diingat, pengamatan ini menggunakan beberapa antena teleskop-radio yang berjarak sekitar ribuan mil antara satu sama lain agar mendapatkan kekuatan sinyal yang baik untuk menangkap data-data detail yang diperlukan untuk mendeteksi perluasan suatu objek yang jaraknya sangat jauh.

Baca Juga: Penghormatan bagi Stephen Hawking, Suaranya Dikirim ke Lubang Hitam

Halaman:


Video Pilihan

Sumber PHYSORG
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Minyak Terbaik untuk Kesehatan, Salah Satunya Minyak Zaitun

5 Minyak Terbaik untuk Kesehatan, Salah Satunya Minyak Zaitun

Oh Begitu
Ikan Pari Manta, Ikan Pari Terbesar di Dunia yang Terancam Punah

Ikan Pari Manta, Ikan Pari Terbesar di Dunia yang Terancam Punah

Oh Begitu
Studi Ungkap Sebelum Dikorbankan untuk Persembahan Dewa, Anak Suku Inca Diberi Obat Halusinasi

Studi Ungkap Sebelum Dikorbankan untuk Persembahan Dewa, Anak Suku Inca Diberi Obat Halusinasi

Oh Begitu
Perubahan Iklim Bikin Jam Tidur Terganggu, Kok Bisa?

Perubahan Iklim Bikin Jam Tidur Terganggu, Kok Bisa?

Fenomena
CDC Ungkap Bukti Infeksi Adenovirus Sebabkan Hepatitis Akut Misterius pada Anak

CDC Ungkap Bukti Infeksi Adenovirus Sebabkan Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Oh Begitu
Mengidolakan Berlebih, Bisa Jadi Tanda Hubungan Parasosial

Mengidolakan Berlebih, Bisa Jadi Tanda Hubungan Parasosial

Kita
5 Penyakit Ginjal yang Paling Umum, Salah Satunya Batu Ginjal

5 Penyakit Ginjal yang Paling Umum, Salah Satunya Batu Ginjal

Kita
6 Cara Mencegah Kanker Usus seperti yang Diidap Achmad Yurianto Sebelum Meninggal Dunia

6 Cara Mencegah Kanker Usus seperti yang Diidap Achmad Yurianto Sebelum Meninggal Dunia

Kita
5 Kebiasaan Makan yang Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh

5 Kebiasaan Makan yang Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh

Kita
Daur Ulang Limbah Kayu Hasilkan Material Lebih Kuat dari Baja

Daur Ulang Limbah Kayu Hasilkan Material Lebih Kuat dari Baja

Oh Begitu
Gejala Virus Hendra pada Manusia dan Cara Mencegahnya

Gejala Virus Hendra pada Manusia dan Cara Mencegahnya

Kita
Dikenal Punya Sengatan Berbisa, Bagaimana Kalajengking Kawin?

Dikenal Punya Sengatan Berbisa, Bagaimana Kalajengking Kawin?

Oh Begitu
7 Gejala Cacar Monyet dan Perbedaannya dengan Gejala Cacar

7 Gejala Cacar Monyet dan Perbedaannya dengan Gejala Cacar

Oh Begitu
Ketahui Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Usus, Penyakit yang Diidap Achmad Yurianto Sebelum Meninggal

Ketahui Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Usus, Penyakit yang Diidap Achmad Yurianto Sebelum Meninggal

Kita
Perkuat Informasi Maritim di Perairan Indonesia, BMKG Lepaskan Drifter dan Floats di Selat Makassar

Perkuat Informasi Maritim di Perairan Indonesia, BMKG Lepaskan Drifter dan Floats di Selat Makassar

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.