Bingungkan Darwin, Misteri Penyebaran Tanaman Berbunga Kini Terjawab - Kompas.com

Bingungkan Darwin, Misteri Penyebaran Tanaman Berbunga Kini Terjawab

Kompas.com - 15/01/2018, 19:30 WIB
Bunga tulip khas Belanda dipamerkan di rumah kaca di Taman Bunga Keukenhof, Belanda. Bunga tulip adalah salah satu produk holtiklutura andalan dari Belanda. 
KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG Bunga tulip khas Belanda dipamerkan di rumah kaca di Taman Bunga Keukenhof, Belanda. Bunga tulip adalah salah satu produk holtiklutura andalan dari Belanda.

KOMPAS.com -- Bapak teori evolusi, Charles Darwin semasa hidupnya pernah melontarkan pertanyaan terkait tanaman berbunga (angiosperma). Dia bingung lantaran penyebaran bunga yang sangat cepat hingga menjadi tanaman paling dominan di bumi.

Di masa lalu, tanaman runjung dan pakis tumbuh di bumi lebih dulu. Tanaman berbunga pertama baru ada sekitar 150 juta tahun setelahnya. Namun kini sekitar 90 persen semua jenis tanaman, termasuk tanaman pangan menghasilkan bunga. Penyebarannya masih misteri.

Berabad-abad ilmuwan mencari tahu dan penasaran akan rahasia di balik misteri itu. Sekarang para ilmuwan Amerika yakin bahwa mereka memiliki jawaban dan bukti akan misteri ratusan tahun itu.

Temuan terbaru yang dipublikasikan di PLOS Biology, Kamis (11/1/2018) menunjukkan bahwa hal itu berkaitan dengan ukuran genom yang dimiliki tanaman.

Baca Juga : Nyeleneh, Nyamuk Ini Lebih Suka Nektar Bunga daripada Darah

Kevin Simonin dari San Fransisco State University di California, AS, berkata bahwa penyebaran itu sangat berkaitan dengan ukuran sel. "Dan bagaimana sebuah sel berukuran kecil dapat terus mempertahankan sesuatu yang diperlukan untuk hidup," kata Simonin seperti dikutip dari BBC, Minggu (14/1/2018).

Sebuah teka-teki membingungkan terjawab

Alasan penyebaran bunga yang sangat cepat menjadi perdebatan oleh para ahli sejak ratusan tahun, sampai seorang Charles Darwin menyebutnya sebagai misteri yang keji. Salah satu penyebabnya, Darwin takut jika hal ini justru menentang teori evolusinya.

Simonin dan rekannya Adam Roddy dari Yale University termasuk ilmuwan yang penasaran. Berbeda dari yang lain, keduanya berhasil menemukan hal yang spesial dari tanaman berbunga.

Awalnya, mereka mencari tahu apakah ukuran materi genetik pada tanaman mempunyai peran penting.

Mereka menganalisis data yang dimiliki Royal Botanic Gardens, Kew, terkait ukuran genom dari ratusan tanaman. Termasuk genom tanaman berbunga, gymnosperma (kelompok tumbuhan runjung), dan pakis.

Dari data tersebut, mereka dapat membandingkan ukuran genom dengan bagian anatomi seperti banyaknya pori-pori daun.

Dari sini, mereka menemukan bahwa ternyata keberhasilan penyebaran bunga yang cepat mengarah pada perampingan genom.

"Dengan mengecilkan ukuran genom yang terkandung dalam nukleus sel, tanaman dapat membangun sel yang lebih kecil," jelasnya.

Hal inilah yang kemudian membantu penyerapan karbon dioksida yang lebih besar saat melakukan fotosintesis, membantu angiosperma dapat memaksimalkan produktivitasnya.

Mereka menyebut perampingan genom adalah syarat penting untuk meningkatkan pertumbuhan dengan cepat. Spesialnya hal ini hanya terjadi pada kelompok angiosperma saja.

Baca Juga : Arkeolog Temukan Fosil Unik Mirip Bunga Tulip, Apa Keistimewaannya?

"Tanaman berbunga adalah kelompok tanaman paling penting di bumi dan sekarang kita tahu mengapa tanaman jenis ini sangat sukses menguasai bumi," ujar mereka.

Meski teka-teki sudah terjawab, namun dari temuan ini juga menimbulkan pertanyaan baru. Salah satunya mengapa tanaman berbunga dapat mengecilkan genom atau mengapa pakis dan tanaman runjung tetap ada meski kedua jenis tanaman ini memiliki ukuran genom yang besar.


EditorYunanto Wiji Utomo
SumberBBC

Close Ads X