Kompas.com - 15/12/2017, 09:00 WIB
Ilustrasi kertas pembungkus makanan MilkosIlustrasi kertas pembungkus makanan
|
EditorMichael Hangga Wismabrata

KOMPAS.com — Beberapa tahun lalu atau mungkin hingga kini, diet dengan pola 5:2 sangat terkenal dan sudah menuai banyak pujian oleh sejumlah ahli gizi dan selebritas dunia.

Konsep diet 5:2 sendiri sebenarnya sederhana, yakni membatasi asupan kalori selama dua hari dengan puasa. Pada saat itu, konsumsi kalori dibatasi menjadi 500 untuk wanita dan 600 untuk pria. Sisanya, boleh makan apa saja yang disuka selama satu minggu. Kalau di Indonesia, konsep diet ini sangat mirip dengan puasa Senin Kamis.

Bagi sebagian orang, pola diet seperti ini dipercaya dapat membantu menurunkan berat badan. Namun, ternyata beberapa orang juga berpendapat bahwa diet ini dapat membantu mengasah ketajaman mental dan otak.

Dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Society for Neuroscience pada November, para ilmuwan melaporkan bahwa puluhan tikus yang secara teratur dipaksa untuk berpuasa mengalami perubahan otak yang baik.

Baca juga: PBB Beri Peringatan Dampak Polusi Udara pada Otak Anak 

Neuron pada otak menerima lebih banyak energi yang memungkinkan untuk menumbuhkan lebih banyak koneksi pada otak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mark Mattson dari National Institute on Aging di Bethesda, Maryland, dan timnya melakukan penelitian ini terhadap 40 tikus. Beberapa di antaranya ada yang tidak diberi makan sama sekali dalam satu hari, juga ada yang diberi makanan dengan jumlah kalori sama dengan tikus yang berpuasa.

Pengamatan pada tikus tersebut menunjukkan bahwa berpuasa dapat meningkatkan sekitar 50 persen zat kimia otak yang disebut BDNF (faktor neurotropika yang diturunkan dari otak). Bagi manusia, BDNF terlibat dalam pembelajaran dan ingatan.

Tingkat protein dalam BDNF cenderung menurun seiring bertambahnya usia, terutama jika seseorang memiliki penyakit yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif seperti Alzheimer.

"Ini sangat masuk akal dari perspektif evolusi," kata Mark Mattson kepada Newsweek, Selasa (12/12/2017).

Mattson menjelaskan, nenek moyang manusia memiliki pola mengonsumsi makanan mirip seperti hewan di alam bebas yang bisa bertahan dalam waktu lama tanpa makanan. Bahkan, mereka bisa seminggu tidak berburu dan memakan semua mangsanya sekaligus.

Baca juga: Bagaimana Diet Makanan Cair Menyembuhkan Diabetes Tipe 2 Wanita Ini?

Halaman:


Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.