PBB Beri Peringatan Dampak Polusi Udara pada Otak Anak

Kompas.com - 06/12/2017, 18:06 WIB
Foto yang diambil pada 2014 ini memperlihatkan asap tebal akibat polusi menutupi kota New Delhi, India. ROBERTO SCHMIDT / AFP Foto yang diambil pada 2014 ini memperlihatkan asap tebal akibat polusi menutupi kota New Delhi, India.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

New Delhi didaulat sebagai kota dengan pencemaran udara paling tinggi di India.Reuters/Independent New Delhi didaulat sebagai kota dengan pencemaran udara paling tinggi di India.

KOMPAS.com -- Hari ini, Rabu (6/12/2017), PBB membunyikan alarm tanda bahaya terkait masalah polusi udara.

Tingginya polusi udara pada negara-negara maju dan berkembang, khususnya di Asia dan Afrika, sudah sangat meresahkan dan memiliki memiliki dampak buruk bagi perkembangan otak bayi yang baru lahir dan orang tua.

Badan PBB untuk masalah anak-anak (UNICEF) menyebut bahwa pada saat ini, ada lebih dari 16 juta anak-anak berusia bawah satu tahun di Asia yang tinggal di kawasan dengan tingkat polusi setidaknya enam kali lebih tinggi dari tingkat aman.

Citra satelit yang digunakan untuk mengamati tingkat polusi udara di seluruh dunia menemukan adanya 12,2 juta anak-anak di bawah usia satu tahun yang tinggal di Asia selatan terkena dampaknya. Banyak anak-anak di Afrika juga merasakan hal yang sama.

Baca Juga: Tumbuhan Juga Sebabkan Polusi Udara, Kok Bisa?

Perlu diketahui, polusi udara ini sangat berpengaruh terhadap pernapasan manusia. Terlalu banyak menghirup udara kotor dapat memicu munculnya penyakit asma, bronkitis, dan penyakit pernapasan jangka panjang lainnya.

"Sebagian besar penelitian ilmiah menunjukkan adanya potensi risiko polusi udara terhadap kehidupan anak-anak di masa depan. Dampaknya sampai ke otak mereka yang sedang berkembang," kata UNICEF seperti dilaporkan AFP, Rabu (6/12/2017).

Laporan ini menyoroti hubungan antara polusi udara dan fungsi otak, termasuk IQ dan ingatan verbal maupun nonverbal, nilai akademis yang di bawah rata-rata, dan masalah perilaku neurologis lainnya.

"Hal ini disebabkan banyaknya urbanisasi di dunia, dan tidak ada pengurangan polusi udara yang memadai. Akibatnya, ada banyak anak yang menjadi korban sekarang dan di masa datang," jelas Unicef.

Partikel yang sangat halus dalam polusi udara di kota dapat merusak sawar darah otak (SDO). SDO merupakan selaput halus yang melindungi otak dari zat beracun.

Efeknya tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga di masa datang. Beberapa penelitian telah mengaitkan SDO dengan penyakit Alzheimers dan Parkinson pada orang tua.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X