Ahli Harvard Sebut Singapura Terbaik dalam Deteksi SARS-CoV-2

Kompas.com - 19/02/2020, 18:07 WIB
Ilustrasi virus corona ShutterstockIlustrasi virus corona

KOMPAS.com – Baru-baru ini, ahli epidemiologi Marc Lipstich dari Harvard TH Chan School of Public Health menyebutkan bahwa sistem kesehatan di Indonesia dan Thailand mungkin tidak dapat mendeteksi virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

Hal itu dibantah oleh Siswanto selaku Kepala Badan Litbang Kementerian Kesehatan. Ia mengatakan, penelitian tersebut hanya berdasarkan kalkulasi matematis dan belum dipastikan kebenarannya.

Baca juga: Ahli Harvard Peringatkan, Virus Corona di Indonesia Tak Terdeteksi

Kemudian, empat orang ahli epidemiologi dari Harvard TH Chan School of Public Health menyebutkan bahwa pendekatan Singapura terhadap deteksi virus SARS-CoV-2 merupakan yang terbaik, disebut sebagai “gold standard”.

Studi tersebut menyebutkan bahwa apabila negara-negara di dunia memiliki alat deteksi virus SARS-CoV-2 layaknya Singapura, mungkin jumlah penderitanya sudah 2,8 kali lebih banyak dari sekarang.

“Kami menganggap 18 kasus (virus SARS-CoV-2) pada 4 Februari 2020 di Singapura merupakan deteksi standar emas,” tutur empat ahli epidemiologi tersebut seperti dikutip dari Asia News Network, Rabu (19/2/2020).

Baca juga: Nama Virus Corona Wuhan Sekarang SARS-CoV-2, Ini Bedanya dengan Covid-19

Mereka juga memperkirakan, kasus yang disebarluaskan dari Wuhan 38 persen lebih sensitif seperti yang ditemukan di Singapura. Bagi negara-negara high surveillance (tingkat ketangguhan yang tinggi), angkanya mencapai 40 persen.

Negara-negara high surveillance didefinisikan sebagai negara yang memiliki skor tertinggi dalam Global Health Security Index (GHSI). Indeks tersebut memberi peringkat sebuah negara terhadap pencegahan penyakit, deteksi penyakit, serta pelaporan dan respons.

Deteksi yang terpercaya

Para ahli menilai bahwa kemampuan Singapura mendeteksi virus SARS-CoV-2 sama halnya dengan deteksi SARS yang pernah mewabah sebelumnya.

Para ahli epidemiologi tersebut mengolah kembali studi sebelumnya dari Harvard yang menggarisbawahi Singapura, karena memiliki statistik yang anomali. Statistik tersebut berdasarkan banyaknya orang yang datang dari China.

Baca juga: Tanggapi Terawan, Ahli Harvard Ungkap Riset Dugaan Covid-19 di Indonesia

Para peneliti kemudian memeriksa data dari World Health Organization (WHO) pada 4 Februari 2020, yang menyebutkan jumlah kasus yang disebabkan oleh pendatang asal China menuju 191 negara dan provinsi. Termasuk Hongkong, Macau, dan Taiwan.

Mereka kemudian menggunakan data dari International Air Travel Association dan sumber lainnya untuk mencocokkan penumpang transportasi udara dari Wuhan menuju luar China.

“Di antara negara-negara dengan volume kedatangan turis China yang besar, Singapura menunjukkan rasio tertinggi deteksi kasus Covid-19. Rasionya satu per lima turis harian,” tutur salah satu ahli.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X