Virus Corona sampai Ebola, Kenapa Virus dari Kelelawar Sangat Mematikan?

Kompas.com - 11/02/2020, 18:03 WIB
Ilustrasi kelelawar ShutterstockIlustrasi kelelawar

Teknik ini sedikit lebih lambat daripada teknik rubah terbang hitam Australia (Pteropus alecto), wadah virus Hendra, yang siap memerangi infeksi virus dengan interferon-alpha RNA yang ditranskripsi dan siap diubah menjadi protein. Garis sel monyet hijau Afrika (Vero) tidak menghasilkan interferon sama sekali.

Ketika ditantang oleh virus yang meniru Ebola dan Marburg, respons berbeda dari garis sel ini sangat mencolok. Sementara garis sel monyet hijau cepat kewalahan dan terbunuh oleh virus, sebagian dari sel-sel kelelawar rousette berhasil menutup diri dari infeksi virus, berkat peringatan dini interferon.

Baca juga: Update Virus Corona 11 Februari: 1.018 Meninggal, 43.101 Terinfeksi

Pada sel rubah terbang hitam Australia, respon imun bahkan lebih berhasil dengan infeksi virus melambat secara substansial. Selain itu, respons interferon kelelawar ini tampaknya memungkinkan infeksi berlangsung lebih lama.

Brook and Boots sedang merancang model evolusi penyakit yang lebih formal di dalam kelelawar untuk lebih memahami penyebaran virus ke hewan lain dan manusia.

"Sangat penting untuk memahami lintasan infeksi agar dapat memprediksi kemunculan dan penyebaran serta penularan," kata Brook.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X