4 Misteri Virus Corona Wuhan yang Masih Bingungkan Ahli

Kompas.com - 11/02/2020, 12:03 WIB
Ilustrasi virus Corona ShutterstockIlustrasi virus Corona

Oleh Krisna Nur Andriana Pangesti dan Hana A Pawestri


LAPORAN investigasi terakhir di China menyatakan kasus wabah coronavirus Wuhan banyak terjadi pada laki laki dengan usia pasien berkisar 59 tahun.

Jarang dilaporkan kasus infeksi virus 2019 Novel Coronavirus (2019-nCov) pada anak di bawah 15 tahun. Hal ini mungkin karena memang anak-anak jarang terinfeksi oleh virus ini atau gejala pada anak sangat ringan sehingga tidak mencari pertolongan medis.

Kasus infeksi 2019-nCov yang parah biasanya ditemukan pada pasien dengan penyakit dasar penyerta sebelumnya seperti hipertensi, diabetes dan penyakit jantung-pembuluh darah

Namun, laporan terbaru pekan lalu menginformasikan bahwa seorang bayi di Wuhan, kota pusat penularan virus, terinfeksi virus ini hanya 30 jam setelah lahir. Ibu bayi ini dites positif terkena virus sebelum bayinya lahir. Jabang bayi ini kini kondisinya stabil dan menjalani perawatan intensif. Belum diketahui cara penularannya dalam kasus ini.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Secara global, per 9 Februari, wabah radang paru dari Wuhan ini telah menyebabkan lebih dari 37 ribu orang terinfeksi, dengan kematian 812 orang, mayoritas di China. Virus yang belum ada vaksin penangkalnya ini telah menyebar di 29 negara.

Meskipun kasus infeksi 2019-NCov ini telah terdeteksi sejak Desember 2019, masih banyak misteri yang belum terungkap mengenai virus strain baru, antara lain tingkat keparahan, bagaimana penularannya, sumber penularan, dan secepat apakah penyebarannya.

Juga pertanyaan seberapa parahkah gejala yang ditimbulkan, berapa lama gejala penyakit ini muncul sampai dapat dideteksi, dan faktor risiko apa yang menyebabkan orang terinfeksi.

Keparahan penyakit

Menentukan keparahan yang ditimbulkan oleh penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus penyebab wabah tidak mudah. Hal ini karena kasus yang ditemukan atau dilaporkan adalah kasus yang berada di rumah sakit, sedangkan terdapat kemungkinan adanya kasus dengan gejala yang lebih ringan yang tidak mencari pertolongan medis.

Di lain pihak, terdapat kemungkinan adanya kematian yang tidak terdeteksi oleh petugas kesehatan.

Untuk kasus infeksi 2019-nCov yang banyak dilaporkan adalah kasus pneumonia atau radang paru. Dari 41 kasus pertama, sepertiganya harus masuk ke ruang perawatan intensif.

Bila dibandingkan dengan kasus SARS atau MERS, tingkat kematian yang ditimbulkan oleh infeksi 2019-nCov tidak sebanyak infeksi coronavirus penyebab SARS/MERS. Penyakit MERS menyebabkan 37 orang meninggal dari 100 kasus (sekitar 37% dari total kasus), SARS 11 dari 100 kasus (sekitar 11% dari jumlah kasus), sedangkan 2019-nCov untuk data saat ini menyebabkan kematian 2-3 orang dari 100 kasus (sekitar 2-3% dari seluruh kasus).

Ini artinya dari sisi dampak fatal, walau ketiga jenis virus itu dari keluarga yang sama, virus Wuhan lebih kecil dampaknya.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lama Jadi Misteri, Ternyata Ini Alasan Tikus Air Bisa Menyelam

Lama Jadi Misteri, Ternyata Ini Alasan Tikus Air Bisa Menyelam

Oh Begitu
Buaya Raksasa dari Era Prasejarah Ditemukan di Australia, Ini Wujudnya

Buaya Raksasa dari Era Prasejarah Ditemukan di Australia, Ini Wujudnya

Oh Begitu
Misteri di Inti Bumi Miring dan Berkurangnya Panas Planet di Bawah Indonesia

Misteri di Inti Bumi Miring dan Berkurangnya Panas Planet di Bawah Indonesia

Fenomena
[POPULER SAINS] Bagaimana Atlet Bisa Kena Serangan Jantung? | Alasan Varian Delta Picu Lonjakan Kasus Covid-19

[POPULER SAINS] Bagaimana Atlet Bisa Kena Serangan Jantung? | Alasan Varian Delta Picu Lonjakan Kasus Covid-19

Oh Begitu
Gletser Darah di Pegunungan Alpen Bisa Jadi Penanda Perubahan Iklim

Gletser Darah di Pegunungan Alpen Bisa Jadi Penanda Perubahan Iklim

Oh Begitu
Isolasi Mandiri di Rumah, Ini yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Isolasi Mandiri di Rumah, Ini yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Kita
Cara Mencegah Serangan Jantung Saat Berolahraga, Ini Saran Ahli

Cara Mencegah Serangan Jantung Saat Berolahraga, Ini Saran Ahli

Oh Begitu
Wisma Atlet Hampir Penuh, Siapa Saja yang Boleh Isoman?

Wisma Atlet Hampir Penuh, Siapa Saja yang Boleh Isoman?

Kita
Akhirnya Diakui, Bumi Sekarang Punya Samudra Kelima

Akhirnya Diakui, Bumi Sekarang Punya Samudra Kelima

Fenomena
Peneliti Temukan Telur Ayam dengan Kondisi Utuh Berusia 1000 Tahun

Peneliti Temukan Telur Ayam dengan Kondisi Utuh Berusia 1000 Tahun

Oh Begitu
Alasan Hiu Karang Berselancar di Siang Hari Akhirnya Terkuak, Studi Jelaskan

Alasan Hiu Karang Berselancar di Siang Hari Akhirnya Terkuak, Studi Jelaskan

Fenomena
Ahli Jelaskan Bagaimana Varian Delta Virus Corona Sebabkan Lonjakan Kasus Covid-19

Ahli Jelaskan Bagaimana Varian Delta Virus Corona Sebabkan Lonjakan Kasus Covid-19

Oh Begitu
Sperma Tikus Bertahan 6 Tahun di ISS, Akankah Jadi Jawaban Cara Bereproduksi di Luar Angkasa?

Sperma Tikus Bertahan 6 Tahun di ISS, Akankah Jadi Jawaban Cara Bereproduksi di Luar Angkasa?

Oh Begitu
Ahli Jelaskan Bagaimana Atlet Bisa Terkena Serangan Jantung

Ahli Jelaskan Bagaimana Atlet Bisa Terkena Serangan Jantung

Oh Begitu
Varian Delta yang Menyebar di Kudus Disebut Super Strain, Ini Penjelasan Ahli

Varian Delta yang Menyebar di Kudus Disebut Super Strain, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X