Virus Corona sampai Ebola, Kenapa Virus dari Kelelawar Sangat Mematikan?

Kompas.com - 11/02/2020, 18:03 WIB
Ilustrasi kelelawar ShutterstockIlustrasi kelelawar


KOMPAS.COM - Wabah penyakit dalam beberapa tahun terakhir, seperti SARS, MERS, EBOLA, dan kini virus 2019-nCoV menyebabkan tingkat kematian yang cukup tinggi. Pasalnya, virus-virus tersebut salah satunya berasal dari kelelawar.

Mengapa kelelawar dapat menularkan virus yang mematikan?

Dilasir dari phys.org (10/02/2020), sebuah penelitian baru dari University of California, Berkeley mengungkapkan bahwa kelelawar memiliki respon kekebalan yang sangat kuat terhadap virus. Saat kelelawar terinfeksi virus, tubuhnya akan merespon cepat supaya menghalangi virus keluar dari sel.

Baca juga: 4 Misteri Virus Corona Wuhan yang Masih Bingungkan Ahli

Walaupun respon tersebut dapat melindunginya, ini dapat mendorong virus yang hinggap di inang kelelawar memperbanyak diri lebih cepat sehingga membuat kekacauan bahkan kematian jika virus tersebut pindah ke manusia yang memiliki sistem kekebalan tubuh lebih minim.

Hal ini menjadikan kelelawar sebagai wadah virus yang cepat bereproduksi dan sangat mudah menular. Bahkan, ketika virus kelelawar ini pindah ke hewan lain yang juga tidak memiliki sistem kekebalan respon cepat, virus dengan cepat membanjiri inang baru mereka sehingga menyebabkan tingkat kematian yang tinggi.

"Beberapa kelelawar mampu meningkatkan tanggapan antivirus yang kuat ini, tetapi juga menyeimbangkannya dengan respons anti-peradangan," kata Cara Brook, seorang postdoctoral Miller Fellow di UC Berkeley dan penulis pertama penelitian ini.

Baca juga: Tahun Lalu, Ahli China Peringatkan Potensi Virus Corona Baru dari Kelelawar

Brook juga mengatakan bahwa sistem kekebalan tubuh manusia akan menghasilkan peradangan luas jika mencoba strategi antivirus seperti kekelawar yang dapat menghindar dari ancaman imunopatologi.

Menurut para peneliti, jika habitatnya diganggu, kelelawar akan memberi tekanan kepada hewan lain dengan menumpahkan lebih banyak virus dalam air liur, urin, dan feses mereka yang dapat menginfeksi.

"Ancaman lingkungan yang meningkat terhadap kelelawar dapat menambah ancaman zoonosis," kata Brook.

Sementara itu, seorang ahli ekologi penyakit dan profesor biologi integratif UC Berkeley, Mike Boots juga membenarkan bahwa pada intinya, kelelawar berpotensi dalam menampung virus. Studi baru oleh Brook, Boots dan rekan-rekan mereka diterbitkan bulan ini di jurnal eLife.

Baca juga: Studi Ungkap, Virus Corona Bisa Hidup 9 Hari di Luar Tubuh Manusia

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Oh Begitu
3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

Fenomena
Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Fenomena
Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Oh Begitu
Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Fenomena
Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Oh Begitu
Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Fenomena
Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena
BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

Fenomena
Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Oh Begitu
Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Fenomena
CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

Kita
Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
Hasil Otopsi Temukan Gumpalan Darah di Hampir Seluruh Organ Pasien Covid-19

Hasil Otopsi Temukan Gumpalan Darah di Hampir Seluruh Organ Pasien Covid-19

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X