Ilmuwan Temukan Virus Misterius Tanpa Gen di Brasil, Seperti Apakah?

Kompas.com - 11/02/2020, 13:31 WIB
Ilustrasi virus flu dreamerb/ShutterstockIlustrasi virus flu


KOMPAS.com - Para ilmuwan telah mengidentifikasi virus misterius yang genomnya tampaknya sangat baru di dunia sains. Bahkan, belum pernah didokumentasikan sebagai gen asing di penelitian manapun.

Melansir Science Alert, Selasa (11/2/2020), virus itu dinamai Yaravirus, diambil dari nama Yara atau Lara, figur ratu air dalam mitologi Brasil. Virus ini ditemukan di Danau Pampulha, yakni danau buatan di kota Brasil, Belo Horizonte.

Kendati Yaravirus (Yaravirus braziliensis) mungkin bukan sinyal supernatural, namun terbukti virus ini sama misteriusnya dengan legenda nimfa air.

Sebab, dalam makalah yang diterbitkan di BioRxiv para peneliti menjelaskan virus ini memiliki garis keturunan baru virus amuba dengan asal dan filogeni yang membingungkan.

Baca juga: Studi Ungkap, Virus Corona Bisa Hidup 9 Hari di Luar Tubuh Manusia

Dua anggota tim senior penelitian ini yakni ahli virologi, Bernard La Scola dari Aix-Marseille University di Prancis dan Jônatas S. Abrahão dari Brazil's Federal University of Minas Gerais membantu penelitian tersebut, sebelumnya keduanya membantu menemukan dua virus baru.

Tupanvirus adalah virus raksasa yang habitatnya ditemukan di perairan ekstrem. Sedangkan Giant viruses, berbeda dengan varietas biasa, sebab kapsid atau cangkang protein yang membungkus partikel virus sangat besar.

Bentuk-bentuk virus yang jauh lebih besar ini baru ditemukan pada abad ini. Bukan hanya karena ukurannya yang besar, tetapi virus ini juga memiliki genom yang lebih kompleks.

Baca juga: Es Arktik Mencair, Virus Raksasa Kuno Bisa Bangkit Kembali

Selain itu, dengan ukuran cangkangnya juga memberikan kemampuan untuk mensintesis protein. Di antaranya melakukan hal-hal seperti perbaikan DNA, replikasi DNA, transkripsi dan menerjemahkan DNA.

Sebelum penemuan, selama ini virus dianggap sebagai entitas yang relatif lembam, tidak hidup dan hanya mampu menginfeksi inangnya.

Melalui penelitian ini, membuktikan bahwa virus jauh lebih kompleks daripada yang pernah diyakini dalam beberapa tahun terakhir.

Gen Yaravirus belum dideskripsikan

Yaravirus tampaknya bukan virus biasa, karena terdiri dari partikel berukuran 80 nanometer, namun yang menarik adalah genomnya yang tampak unik.

"Sebagian besar virus amuba yang diketahui telah terlihat berbagi banyak fitur yang akhirnya mendorong penulis untuk mengklasifikasikannya ke dalam kelompok evolusi umum," tulis para penulis.

Hanya saja bertentangan dengan apa yang diamati pada virus amuba yang terisolasi lainnya, Yaravirus tidak diwakili oleh partikel besar atau raksasa dan genom kompleks.

Akan tetapi, kata penulis, Yaravirus pada saat yang sama membawa sejumlah penting gen yang sebelumnya tidak dideskripsikan.

Baca juga: 5 Daftar Penyakit Zoonosis Paling Mematikan, H1N1 sampai Virus Corona

Dalam pengamatan, para peneliti menemukan lebih dari 90 persen gen Yaravirus belum pernah dideskripsikan, membentuk apa yang dikenal sebagai gen yatim alias ORFans.

Hanya enam gen yang ditemukan memiliki kemiripan yang jauh dengan gen virus yang didokumentasikan dalam database ilmiah publik.

Bahkan, dalam pencarian melalui lebih dari 8.500 metagenom yang tersedia untuk umum tidak memberikan petunjuk tentang apa yang mungkin terkait dengan Yaravirus.

"Dengan menggunakan protokol standar, analisis genetik pertama kami tidak dapat menemukan urutan kapsid atau gen virus klasik lain yang dapat dikenali dalam Yaravirus," jelas para peneliti.

Peneliti mengungkapkan mengikuti protokol metagenomik saat ini untuk deteksi virus, Yaravirus bahkan tidak akan dikenali sebagai agen virus.

Baca juga: Sering Dianggap Sama, Apa Beda SARS dan Virus Corona dari Wuhan?

Lalu, apa sebenarnya Yaravirus itu?

Untuk saat ini, para ilmuwan hanya bisa berspekulasi, tetapi menyarankan itu bisa menjadi kasus terisolasi pertama dari kelompok virus amuba yang tidak diketahui.

Atau lebih jauh dapat berpotensi menjadi jenis virus raksasa yang entah bagaimana mungkin berevolusi menjadi bentuk demikian. Namun, apapun bentuknya, menurut peneliti masih banyak hal yang harus dipelajari.

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah jumlah protein yang tidak diketahui yang menyusun partikel Yaravirus mencerminkan variabilitas yang ada di dunia virus dan berapa banyak potensi genom virus baru yang masih harus ditemukan.

Baca juga: Sama-sama Sebabkan Sakit, Apa Beda Infeksi Bakteri dan Virus?



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Antartika Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas Ilmuwan Kurangi Personel

Antartika Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas Ilmuwan Kurangi Personel

Oh Begitu
Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

Fenomena
Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

Fenomena
Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Fenomena
Hutan Hujan Amazon Kena Proyek Pengaspalan, Kerusakan Lingkungan di Depan Mata

Hutan Hujan Amazon Kena Proyek Pengaspalan, Kerusakan Lingkungan di Depan Mata

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Sumba Ternyata Sudah 244 Kali Susulan

Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Sumba Ternyata Sudah 244 Kali Susulan

Fenomena
Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

Oh Begitu
Ilmuwan di Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan untuk Lawan Covid-19

Ilmuwan di Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan untuk Lawan Covid-19

Fenomena
Misteri Mahluk Berleher Super Panjang Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasannya

Misteri Mahluk Berleher Super Panjang Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasannya

Fenomena
Ledakan Lebanon, Bagaimana Amonium Nitrat Menghancurkan Kota?

Ledakan Lebanon, Bagaimana Amonium Nitrat Menghancurkan Kota?

Oh Begitu
Sejak 5 Agustus, Rentetan Gempa Sumba Mencapai 112 Kali

Sejak 5 Agustus, Rentetan Gempa Sumba Mencapai 112 Kali

Fenomena
Rentetan 3 Gempa Guncang Sumba NTT, Begini Analisis BMKG

Rentetan 3 Gempa Guncang Sumba NTT, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

Fenomena
Mengapa Zebra Punya Garis-garis Hitam Putih di Tubuh? Ini Penjelasan Sains

Mengapa Zebra Punya Garis-garis Hitam Putih di Tubuh? Ini Penjelasan Sains

Oh Begitu
Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X