Hari Kanker Sedunia, Kenali 3 Metode Screening Kanker Serviks

Kompas.com - 04/02/2020, 20:03 WIB
Ilustrasi kanker serviks Ilustrasi kanker serviks

KOMPAS.com - Beberapa program pencegahan telah dilakukan pemerintah dalam upaya menurunkan angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks pada wanita. Namun, masih banyak ditemukan pasien yang datang dalam stadium lanjut.

Merujuk pada Servical Screening Guideline yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tes HPV DNA dapat digunakan sebagai skrining pertama untuk mendeteksi kanker serviks.

Baca juga: 3 Kisah Survivor Kanker, Lulus Cumlaude hingga Lawan Kanker Stadium 4

Ketua Perhimpunan Dokter Onkologi dan Ginekologi Indonesia, Prof Dr dr Andrijono SpOG(K), mengatakan bahwa tes HPV DNA menjadi metode baru yang paling baik.

Pencegahan kanker serviks antara lain dapat dilakukan dengan metode skrining sebagai berikut.

1. Inspeksi Visual Asam (IVA)

IVA menjadi pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan oleh pelayanan kesehatan tingkat pertama, seperti Puskesmas, oleh seorang bidan.

Pada umumnya, dalam mekanismenya petugas medis akan memeriksa bibir vagina untuk melihat apakah terdapat lesi putih atau tidak di sana.

Hasil dari deteksi metode tes IVA ini bisa didapatkan dalam jangka waktu hitungan jam saja.

Jika terdapat lesi, maka pasien patut waspada dan akan diminta untuk melakukan pengujian dan pemeriksaan lanjutan atau skrining kembali dalam jangka waktu tertentu, setidaknya setahun sekali.

2. Pemeriksaan sitologi konvensional (Pap smear)

Pemeriksaan pap smear menjadi yang paling sering dilakukan dan diketahui oleh masyarakat.

Dalam mekanismenya, pasien akan diambil lendir atau cairan yang berada di sekitar vaginanya, untuk selanjutnya dilakukan tes analisis dalam laboratorium.

Baca juga: Rutin Pap Smear Tak Lantas Bebas Kanker Serviks

Pap smear pada umumnya hanya bisa dilakukan pada klinik, atau rumah sakit yang memiliki fasilitas tersendiri, atau tidak berada pada pusat pelayanan tingkat pertama.

Hasil dalam deteksi melalui metode papsmear ini akan didapatkan dalam jangka beberapa hari setelah analisis selesai dilakukan.

3. Human Papilloma Virus DNA (HPV DNA tes)

Metode HPV DNA tes ini, kata dia, menjadi metode yang terbaik dalam mendeteksi secara dini infeksi virus HPV pada leher rahim atau serviks sebelum berkembang menjadi kanker.

HPV DNA tes ini juga disebut sebagai metode HPV DNA Tes Hybrid Capture 2, yang telah diakui oleh WHO sebagai tes yang lebih utama dibandingkan IVA dan pap smear, serta telah digunakan sebagai metode skrining di beberapa negara.

"Memang ini HPV DNA tes ini sedikit mahal di awal, tetapi sekali deteksi kalau negatif pasien gak perlu deteksi kanker serviks lagi sampai lima tahun ke depan," kata Andrijono dalam acara Peluncuran Penggunaan Metode Terbaru Pencegahan Kanker Serviks, Jakarta, Selasa (4/2/2020).

Baca juga: Benarkah Biopsi Dapat Sebabkan Kanker Makin Menyebar? Ini Kata Ahli

Selain itu, deteksi dengan metode HPV DNA hasilnya dan akurasinya mencapai 94 persen, karena mekanismenya yang dilakukan adalah mendeteksi secara khusus terkait virus HPV yang ada pada pasien itu.

"Kalau pap smear itu kan cuma mendeteksi ada kelainan atau abnormal gak sel kanker serviksnya, kalau IVA kan cuma mencari lesi putih. Kadang lesi itu juga bukan berarti positif kanker serviks," tuturnya.

Sementara itu, dalam metode HPV DNA tes, secara pasti dan tertarget yang dideteksi adalah HPV yang menjadi penyebab utama penyakit kanker serviks atau leher rahim.

Ilustrasi vaksin kanker serviks Ilustrasi vaksin kanker serviks

Tujuan screening kanker rahim (serviks) HPV DNA:

1. Menurunkan angka kematian akibat kanker leher rahim

2. Mendeteksi lebih awal ada atau tidaknya infeksi HPV

3. Menurunkan biaya pengobatan akibat kanker leher rahim

4. Menjamin kesehatan wanita bebas infeksi HPV untuk 5 tahun berikutnya

Dalam perhitungannya, biaya yang dikeluarkan untuk HPV DNA tes memang agak sedikit lebih mahal yaitu berkisar Rp 500-800 ribu rupiah pemeriksaan. Namun itu berlaku hingga lima tahun yang akan datang, jika DNA pasien negatif dari kanker serviks.

Sedangkan, IVA maupun papsmear harganya bisa gratis hingga Rp 500 ribu untuk sekali pemeriksaan, tetapi harus rutin dilakukan setiap tahunnya.

"Kalau dihitung-hitung cost (harga) per tahunnya dengan akurasi tinggi tes HVP DNA ini, justru lebih ringan daripada metode screening lainnya dan juga ketimbang sudah terlanjur kena sakit kanker serviks," tuturnya.

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X