Hari Gizi Nasional, Ingat Penuhi Nutrisi 1.000 Hari Pertama Kelahiran

Kompas.com - 24/01/2020, 07:03 WIB
Ilustrasi anak melukis shutterstockIlustrasi anak melukis

KOMPAS.COM - Sebentar lagi, kita akan memperingati Hari Gizi Nasional pada 25 Januari. Gizi pada Sumber Daya Manusia merupakan hal yang penting disorot karena menjadi faktor penentu kekuatan sebuah negara, lembaga, maupun perusahaan.

Bahkan, seorang anak harus diperhatikan gizinya sejak periode awal kehidupan dimulai, yaitu saat di dalam kandungan hingga dua tahun pertama setelah kelahiran. Periode ini sering disebut 1000 HPK (Seribu Hari Pertama Kehidupan).

Lalu, mengapa hal tersebut penting untuk diperhatikan?

Menurut dr Maria J. Adrijanti, Health Team Leader Wahana Visi Indonesia (WVI), 1.000 hari pertama kelahiran (HPK) adalah periode emas seorang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Baca juga: 3 Manfaat Haisom, Olahan Teripang Kaya Gizi yang Disajikan saat Imlek

Jika pada periode ini janin pada kandungan Anda tidak mendapat gizi yang baik dan tepat, maka janin Anda akan mengalami gangguan pada tumbuh kembangnya yang bersifat permanen dan sulit diperbaiki setelah berusia dua tahun.

"Kalau kita bangun rumah, 1.000 hari pertama ini adalah fondasinya. Kalau fondasinya kuat, kita akan menjadi sumber manusia yang unggul," ujar Janti pada diskusi ToWer (Together Empower) yang digelar oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) di Jakarta, Kamis (23/01/2020).

Seorang janin atau baduta (anak usia bawah dua tahun) yang mengalami gangguan gizi kronis akan memiliki dampak jangka pendek, yaitu mengalami gangguan perkembangan otak dan pertumbuhannya sehingga membuat rendahnya kemampuan kognitif dan daya tahan kemampuan kerjanya.

Sebaliknya, jika janin atau baduta mengalami kelebihan gizi atau kegemukan, maka jangka pendeknya akan mengalami gangguan metabolisme di dalam tubuh sehingga meningkatkan risiko diabetes, obesitas, penyakit jantung, hipertensi, kenker, stroke, dan disabilitas saat lansia.

Bahkan, jika mengalami gizi akut atau kurus, dapat berujung pada kematian janin atau baduta.

Baca juga: Kebersihan Peralatan Menyusui dan Makanan, Bantu Tumbuh Kembang Bayi

Oleh karena itu, sebelum janin atau baduta mendapat gizi yang tepat, maka secara khusus ibu yang mengandungnya juga harus diperhatikan gizinya.

Hal ini dikarenakan, jika seorang perempuan dewasa kekurangan gizi, seperti rendahnya berat badan dan pendek, akan berisiko melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Jika kondisi ini tidak segera dipulihkan, maka seluruh anak intergenerasi akan memiliki postur badan yang pendek dan berat badan yang kurang.

Dalam hal ini, Wahana Visi Indonesia berperan sebagai salah satu yayasan yang ingin mendukung pemutusan rantai kekurangan gizi pada 1000 HPK melalui Gerakan 1000 HPK secara intervensi program gizi spesifik (langsung) dan program gizi sensitif (tidak langsung) di Indonesia.

"Lebih baik kita mencegah dan lebih baik kita membangun kapastitas diri kita," tutup Janti.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X