Kompas.com - 07/01/2020, 18:32 WIB
Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta melakukan Thermal Scanner (deteksi suhu tubuh) di kedatangan internasional Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (7/1/2020). KOMPAS.com/SINGGIH WIRYONOPetugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta melakukan Thermal Scanner (deteksi suhu tubuh) di kedatangan internasional Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (7/1/2020).

KOMPAS.com - Sebuah penyakit pneumonia misterius mewabah di kota Wuhan, China.

Pertama kali diinformasikan kepada kantor WHO di China pada 31 Desember 2019, sejauh ini sudah ada 59 kasus pneumonia misterius yang dilaporkan di Wuhan dan muncul kasus-kasus yang dicurigai penyakit yang sama di Hongkong.

Gejala penyakit ini meliputi demam, kesulitan bernapas dan lesi pada paru-paru seperti pneumonia.

Penyakit ini juga mengingatkan banyak orang akan wabah SARS yang sempat menyapu Asia pada 2002, menyebar ke 37 negara dan menginfeksi 8.000 orang.

Akan tetapi, otoritas Wuhan berkata bahwa penyakit ini bukan SARS, MERS atau flu burung.

Baca juga: Pneumonia Jadi Masalah Global, WHO Canangkan 3P untuk Penanggulangan

Lantas apa?

Dugaan paling kuat saat ini adalah penyakit pneumonia jenis baru.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dilansir dari CNN, Selasa (7/1/2019), infeksi ini awalnya terjadi pada tanggal 12 Desember 2019 dan 29 Desember 2019.

Sebagian dari pasien yang terinfeksi bekerja di sebuah pasar makanan laut di Wuhan. Namun, seperti dilaporkan oleh media lokal, pasar yang telah ditutup sejak 1 Januari 2020 untuk di disinfeksi tersebut tersebut juga menjual berbagai hewan hidup, seperi burung, kelinci dan ular.

Hal ini membuat para pakar mencurigai bahwa penyakit disebabkan oleh virus pneumonia baru yang berpindah dari hewan ke manusia.

Baca juga: Hampir 30.000 Babi di Sumut Mati karena Demam Babi Afrika, Wabah Asia

Akankah jadi wabah?

Sejauh ini, badan kesehatan Wuhan belum menemukan bukti jelas adanya transmisi manusia ke manusia akan penyakit ini.

Seluruh pasien juga sudah dikarantina, dengan tujuh di antaranya kini berada dalam kondisi kritis. Lalu, 163 orang yang pernah berkontak dekat dengan pasien juga telah diletakkan di bawah observasi medis.

Akan tetapi, para pakar medis menegaskan bahwa kemungkinan itu tidak betul-betul hilang.

Profesor Leo Poon, seorang pakar virologi dari Hong Kong University dan pakar SARS, berkata bahwa dengan ditutup dan dibersihkannya pasar tempat penyakit ini mewabah, maka timbulnya infeksi baru akan menurun.

Namun tingkat keparahan situasi ini tergantung pada apakah penyakit ini bisa ditularkan dari manusia ke manusia.

Baca juga: Apa Itu African Swine Fever, Penyebab Kematian 20.500 Babi di Sumut?

Hui dari Universitas China juga sependapat. Dia berkata bahwa kemungkinan transmisi manusia ke manusia belum bisa dibuang sepenuhnya karena virus pernapasan sering kali dapat ditularkan antar manusia.

"Masalahnya hanyalah seberapa menular (virusnya)," ujarnya.

Para pakar juga khawatir karena waktu kemunculan virus ini yang menjelang Imlek.

Pasalnya, pada masa Imlek, ratusan juta warga China akan pulang kampung menggunakan kereta, bus dan pesawat terbang. Jutaan warga China lainnya juga akan berlibur ke luar negeri pada saat Imlek.

Di sisi lain, para pakar melihat bahwa sejauh ini belum ada kematian yang disebabkan oleh penyakit pneumonia misterius ini. Lagipula, kemampuan riset dan diagnosis saat ini jauh lebih baik daripada saat SARS mewabah satu dekade yang lalu.

Yuen Kwok-Yung, seorang ahli mikrobiologi dari Universitas Hong Kong, mengatakan kepada Time, Selasa (7/1/2019), sangat kecil kemungkinan ini akan menyebabkan wabah seperti tahun 2003, meskipun kita tidak boleh merasa puas dulu.

Baca juga: 4.682 Babi di Sumut Mati karena Penyakit Hog Cholera, Apa Itu?

Bagaimana dunia merespons?

Selain China, pemerintah-pemerintah dunia juga sedang memerhatikan penyakit pneumonia misterius ini dan memperketat pengawasan.

Otoritas Rumah Sakit Hong Kong memperpendek waktu berkunjung ke rumah sakit dan mengharuskan semua pengunjung untuk memakai masker wajah. Pencitraan termal di bandara-bandara Hong Kong juga ditingkatkan.

Upaya yang sama juga dilaksanakan oleh pemerintah Singapura, yang menyatakan bahwa mereka akan melakukan pemindaian temperatur bagi para pengunjung dari Wuhan.

Sementara itu, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta, Banten, juga memperketak pengawasan kedatangan penumpang asal China.

Bandara Soekarno-Hatta akan mengaktifkan Thermal Scanner atau pemindai suhu tubuh selama 24 jam. Dengan demikian pengunjung yang datang dengan suhu tubuh tidak normal akan segera terdeteksi dan dapat ditindaklanjuti.

Sumber: KOMPAS.com (Singgih Wiryono)

Baca juga: Waspada Virus Pneumonia Asal China, Bandara Soekarno-Hatta Perketat Pengawasan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber CNN,Time
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.