Kenapa Hanya 44 Persen Perempuan Indonesia yang Periksa Payudara Sendiri?

Kompas.com - 14/12/2019, 20:05 WIB
Ilustrasi kanker payudara ShutterstockIlustrasi kanker payudara

Oleh Triana Kesuma Dewi


MAYORITAS penderita kanker payudara di Indonesia baru mendatangi pusat layanan kesehatan ketika sudah berada pada stadium lanjut, yang berakibat pada menurunnya peluang untuk sembuh. Padahal, kanker ini memiliki peluang untuk disembuhkan ketika pasien didiagnosis pada stadium awal dan segera mendapatkan perawatan yang tepat.

Jauh sebelum mencapai stadium empat, sebenarnya perempuan dapat memeriksa sendiri lebih dini kemungkinan adanya indikasi kanker payudara.

Riset terbaru saya dan kolega, dengan sampel 1.967 perempuan berusia 20-60 tahun di Surabaya, diterbitkan baru-baru ini di BMC Public Health, menunjukkan kurang dari separuh (44%) responden pernah mempraktikan Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari) dalam setahun terakhir. Faktor psikologis sangat berpengaruh pada jenis pemeriksaan ini.

Angka tersebut tidak terlalu menggembirakan, tapi masih tergolong cukup baik bila dibandingkan dengan rerata di negara-negara Asia Tenggara, misalnya Thailand (23,5%) atau Filipina (36,9%).

Hasil riset ini menjelaskan bahwa perilaku sehat dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap suatu penyakit dan strategi yang tersedia untuk mengurangi terjadinya penyakit tersebut. Hampir 33% variasi perilaku memeriksa payudara sendiri dipengaruhi oleh komponen model kepercayaan kesehatan.

Faktor-faktor yang berpengaruh

Responden dalam penelitian ini sebagian besar menikah (72,3%), berpendidikan SMA atau lebih (53,4%), tidak memiliki riwayat kanker payudara (98,4%) dan tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker (89.3%).

Riset menggunakan jumlah sampel yang cukup besar dan representatif sehingga memungkinkan generalisasi pada populasi yang lebih luas.

Hasil riset kami mengindikasikan kepercayaan dan persepsi individu akan mempengaruhi perilaku sehat mereka. Ketika individu mempersepsikan diri mereka berisiko terpapar suatu penyakit, mereka akan mempraktikkan perilaku sehat yang diperlukan untuk menghindari penyakit tersebut.

Konsep Health Belief Model (HBM) Rosenstock menyebutkan ada 6 komponen yang mempengaruhi perilaku sehat individu:

  1. Persepsi akan kerentanan yang meliputi persepsi individu terhadap seberapa besar peluang ia akan terjangkit suatu penyakit.
  2. Persepsi akan keparahan, yang menunjukkan sejauh mana keparahan dan dampak yang diakibatkan ketika individu mengalami suatu penyakit.
  3. Persepsi akan manfaat, yakni sejauh mana individu memandang perilaku sehat yang dilakukan akan memberikan dampak positif terhadap status kesehatannya.
  4. Persepsi akan hambatan, menggambarkan sejauh mana individu menilai besaran kendala yang dihadapi untuk melakukan perilaku sehat.
  5. Isyarat untuk melakukan tindakan, menunjukkan pemicu baik dari dalam diri maupun luar individu yang memicu munculnya perilaku sehat.
  6. Efikasi diri, yakni seberapa besar rasa percaya diri individu untuk melakukan perilaku sehat.

Dalam riset kami tampak bahwa praktik Sadari berhubungan dengan tingginya persepsi individu akan manfaat Sadari (3) dan efikasi dirinya untuk melakukan perilaku tersebut (6).

Artinya, partisipan menilai bahwa manfaat untuk memeriksa payudara sendiri cukup besar untuk meningkatkan status kesehatannya, yaitu dapat mendeteksi lebih awal ketika ada ketidaknormalan pada payudara dan mendapatkan pengobatan yang tepat lebih awal.

Mereka cenderung mempraktikkan Sadari dibandingkan dengan kelompok yang memiliki persepsi manfaat yang lebih rendah.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X