10 Tahun DoctorShare, "Dokter Gila" Lie Dharmawan Kisahkan Awal RS Apung

Kompas.com - 11/12/2019, 19:04 WIB
Dokter Lie Dharmawan di Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II yang berlabuh di Baywalk Mall, Jakarta Utara. KOMPAS.com/Shierine Wangsa WibawaDokter Lie Dharmawan di Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II yang berlabuh di Baywalk Mall, Jakarta Utara.

KOMPAS.com - Pada tahun ini, doctorSHARE genap berusia 10 tahun. Dalam jangka waktu tersebut, doctorSHARE telah melakukan 3.291 operasi mayor, 5.538 operasi minor, 2.464 perawatan gigi, 58.859 pelayanan rawat jalan dan konsultasi, penyuluhan kesehatan kepada 11.856 warga, serta 2.227 USG pemeriksaan kandungan.

Ditemui dalam acara kunjungan Kementerian Kesehatan ke Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II yang berlabuh di Baywalk Mall, Jakarta Utara, Selasa (10/12/2019); dr. Lie Augustinus Dharmawan mengenang kembali awal mula RS Apung.

Dia menuturkan bahwa ide membuat RS Apung ini muncul pada 2009. Pada saat itu, dokter Lie sedang melaksanakan operasi ketika seorang ibu dari Saumlaki datang membawa anak laki-laki berusia delapan tahun yang ususnya terjepit (hernia femoralis inkarserata).

Ibu dan anak tersebut harus berlayar menggunakan kapal tradisional selama tiga malam dua hari untuk menemui dokter Lie. Padahal, usus terjepit harus ditangani dalam waktu 6-8 jam. Bila tidak, usus bisa mengalami kematian jaringan atau nekrosis dan menyebabkan kematian.

Baca juga: Setara dengan Rumah Sakit Tipe C, Ini Fasilitas di RS Apung Nusa Waluya II

Operasi pun tetap dilakukan, usus sang anak yang sudah merah tua kehitaman tetap dipertahankan dan anak itu sembuh. Akan tetapi, dokter Lie tetap tidak bisa berhenti memikirkan mengenai kejadian itu.

Setelah kembali ke Jakarta, dokter Lie mendapat ide untuk melakukan jemput bola atau mencari mereka yang membutuhkan, tetapi tidak punya kesempatan untuk mendapatkan pelayanan medis yang layak.

Ide ini diwujudkannya lewat rumah sakit apung yang datang ke daerah-daerah terluar, tertinggal dan terjauh untuk memberikan pelayanan medis gratis.

"Saya mulai dengan sebuah rumah sakit yang sangat kecil. Pinisi kapalnya, kapal kayu yang tua. Saya beli kapal barang dengan menjual rumah saya untuk downpayment-nya, lalu dicicil selama setahun. Tiga tahun lamanya, saya pergunakan waktu untuk merubah sepotong demi sepotong sampai akhirnya menjadi sebuah rumah sakit apung," ujarnya.

Dia melanjutkan, dan pada tanggal 16 Maret 2013, kapal itu melakukan pelayaran perdana. Di situ saya mulai belajar untuk melakukan operasi di atas kapal.

Baca juga: Mengintip Nusa Waluya II, Rumah Sakit Apung Pertama di Atas Tongkang

Namun, awal mula RS Apung sama sekali tidak mudah. Semua biaya dari awal hingga operasional berasal dari kantungnya sendiri.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X