Mengintip Nusa Waluya II, Rumah Sakit Apung Pertama di Atas Tongkang

Kompas.com - 01/12/2019, 12:02 WIB
Rumah sakit apung Nusa Waluya II milik doctorSHAREs ( Yayasan Dokter Peduli) tengah berlabuh di Jakarta, Kamis (28/11/2019). DoctorSHAREs adalah lembaga non profit yang fokus menangani layanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMORumah sakit apung Nusa Waluya II milik doctorSHAREs ( Yayasan Dokter Peduli) tengah berlabuh di Jakarta, Kamis (28/11/2019). DoctorSHAREs adalah lembaga non profit yang fokus menangani layanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan.

KOMPAS.com – Ombak sedikit bergelombang saat speedboat yang saya tumpangi mendekat ke Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II.

Cuaca di dermaga Pluit siang itu, Rabu (27/11/2019) sedikit berawan. Dari kejauhan, tampak RSA Nusa Waluya II berdiri megah di atas tongkang berwarna merah. Rumah sakit tersebut didominasi warna putih dengan lambang Palang Merah besar di salah satu sisinya.

Speedboat perlahan mendekat ke salah satu sisinya. Sebelum menginjakkan kaki di RSA Nusa Waluya II, saya berkontemplasi, buoyancy pasti membuat rumah sakit tersebut cukup goyang. Namun dugaan saya salah.

Kondisi cukup stabil di RSA Nusa Waluya II. Kemudian saya sadar, rumah sakit ini pada dasarnya terdiri dari tumpukan kontainer-kontainer yang dulu pernah digunakan sebagai hotel terapung. Tiap kontainer terhubung satu sama lain, ruangan demi ruangan, lengkap dengan dapur umum dan ruang laundry.

“RSA Nusa Waluya II pertama kali digunakan pada 2013,” tutur salah satu relawan, Chien Chie Lia Erdina saat mengantar saya berkeliling rumah sakit apung ini.

Rumah sakit apung Nusa Waluya II milik doctorSHAREs ( Yayasan Dokter Peduli) tengah berlabuh di Jakarta, Kamis (28/11/2019). DoctorSHAREs adalah lembaga non profit yang fokus menangani layanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Rumah sakit apung Nusa Waluya II milik doctorSHAREs ( Yayasan Dokter Peduli) tengah berlabuh di Jakarta, Kamis (28/11/2019). DoctorSHAREs adalah lembaga non profit yang fokus menangani layanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan.

Nusa Waluya II merupakan rumah sakit apung ketiga milik doctorSHARE. RSA pertama bernama RSA dr Lie Dharmawan, founder doctorSHARE. RSA kedua bernama Nusa Waluya I.

Nusa Waluya II yang saya pijak saat itu adalah RSA pertama, dan mungkin satu-satunya di Indonesia, yang terletak di atas tongkang. Dua RSA pertama berupa kapal yang berbentuk mirip phinisi.

Dari IGD, Ruang Bedah, sampai Kamar Bayi

Jika dibandingkan dengan rumah sakit di darat, RSA Nusa Waluya II setara dengan rumah sakit tipe C. Ini karena fasilitas dan perlengkapan yang ada di RSA Nusa Waluya II termasuk lengkap.

Chien Chie Lia Erdina mengantar saya tur berkeliling Nusa Waluya I. Tur dimulai dari ruang pendaftaran pasien, poli obgyn tempat ibu hamil melakukan USG dan konsultasi, poli interna (penyakit dalam), poli gigi, dan ruang control/ radio room.

Rumah sakit apung Nusa Waluya II milik doctorSHAREs ( Yayasan Dokter Peduli) tengah berlabuh di Jakarta, Kamis (28/11/2019). DoctorSHAREs adalah lembaga non profit yang fokus menangani layanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Rumah sakit apung Nusa Waluya II milik doctorSHAREs ( Yayasan Dokter Peduli) tengah berlabuh di Jakarta, Kamis (28/11/2019). DoctorSHAREs adalah lembaga non profit yang fokus menangani layanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan.

Tur dilanjutkan ke ruang bedah minor, ruang bedah mayor, ruang X-Ray, laboratorium, dan Instalasi Gawat Darurat (IGD). Ada dua bed di ruang IGD, juga mesin kejut jantung dan tabung oksigen.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X