Kompas.com - 18/10/2019, 19:06 WIB
ilustrasi ginjal science alertilustrasi ginjal

KOMPAS.com - Hipertensi telah dinyatakan sebagai penyakit yang dapat menjadi penyebab risiko kerusakan semua organ tubuh manusia, termasuk ginjal.

Lantas muncullah pertanyaan mekanisme atau keterkaitan antara hipertensi atau tekanan darah tinggi dengan penyakit gagal ginjal.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI/InaSH), Dr Tunggul D Situmorang SpPD-KGH FINASIM, dalam acara "Kendalikan Hipertensi, Sayangi Ginjalmu" oleh Bayer, menjelaskan dua cara hipertensi tersebut menyebabkan gagal ginjal.

Pertama, tekanan darah tinggi dapat menjadi penyebab utama Penyakit Ginjal Kronik (PGK).

Baca juga: Seluk Beluk Penyakit Senyap Gagal Ginjal, Pemicu dan Terapinya

Seiring waktu, tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah ke seluruh tubuh, termasuk pembuluh darah ginjal menjadi menebal dan kaku (atherosclerosis).

Kondisi ini menyebabkan suplai darah berkurang ke organ-organ penting seperti ginjal. Tekanan darah tinggi juga merusak unit penyaringan kecil di ginjal yang disebut nephron.

“Jika nephron itu rusak maka fungsi utama ginjal juga ikut terganggu, soalnya ginjal itu kan fungsinya menyaring dan membuang racun-racun sisa metabolisme. Biasanya racun-racun itu yang dikeluarkan melalui urin,” kata Tunggul di Madame Delima Resto, Kamis (17/10/2019).

Saat gangguan di ginjal itu terjadi, maka racun-racun dan cairan di dalam darah seluruh tubuh akan menumpuk.

“Kan dasarnya jantung itu terus memompa gimana pun kondisinya. Nah itu kalau cairan tadi sudah berlebihan dan menumpuk dalam pembuluh darah, itulah yang meningkatkan tekanan darah jadi lebih tinggi lagi dan buruknya bisa jadi pecah pembuluh darah,” tutur dia.

Baca juga: Mitos atau Fakta: Benarkah Daging Kambing Bikin Hipertensi?

Jika terjadinya pembuluh darah pecah tersebut di ginjal, maka penyakit gagal ginjal kronik sangat besar kemungkinan untuk terjadi. Kedua, tekanan darah tinggi juga bisa menjadi komplikasi PGK.

Tekanan darah terjadi karena kekuatan jantung memompa untuk mengalirkan darah melalui pembuluh darah.

Tekanan darah dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu dipengaruhi aktivitas apa yang sedang dilakukan jantung, misalnya saat olahraga, istirahat dan lainnya.

Sementara, ginjal yang memegang peran penting dalam menjaga tekanan darah jangka panjang melalui mekanisme hemodinamik (mengatur jumlah cairan dan garam) dan mekanisme hormonal (sistem renin-angiotensin).

Baca juga: Terbukti, Konsumsi Tinggi Garam Perbesar Risiko Kematian Pengidap Hipertensi

Secara sederhana, ginjal menjadi organ yang sangat bertanggung jawab untuk mengatur garam untuk disaring atau dibuang.

"Garam itu sifatnya mengikat air, maka volume dari darah itu bertambah. Pompa dari jantung yang menyangkut volume darah, akan membuat tekanan darah menjadi tinggi," ujarnya.

Ginjal yang tidak sehat akan berkurang fungsinya dalam mengatur dan menjalankan mekanisme yang ada, akibatnya tekanan darah akan meningkat.

“Pada seseorang yang menderita PGK, tekanan darah tinggi akan berisiko memburuknya penyakit ginjal dan juga dapat menimbulkan penyakit jantung,” ujar dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.