Ketika ada yang mengatakan bahwa kultur demo mahasiswa yang dialami kemarin bersifat patriarki, Luviana melihat mungkin hal itu disebabkan oleh pengalaman baru yang dialami mahasiswa.
Mahasiswa turun ke jalan dalam jumlah besar, kemungkinan banyak di antaranya yang baru pertama kali melakukannya. Itu artinya demo mahasiswa merupakan pengalaman dan pelajaran baru bagi mahasiswa untuk berhadapan dengan situasi besar.
Oleh sebab itu, menanggapi utas tentang demo yang bersifat patriarki tersebut, Luviana menganggap pemikiran itu justru belum sampai ke sana.
Demo mahasiswa dengan gelombang sangat besar, bagi Luviana adalah pelajaran baru untuk mahasiswa Indonesia. Dia menilai, wajar jika mahasiswa belum dapat memahami situasi dengan sangat cepat.
"Misalnya pertama, memahami gelanggang aksi, memahami isu dengan sangat cepat dan mudah, atau yang ketiga pada tingkat lebih kompleks (untuk) memahami bahwa perempuan memiliki hak yang sama. Itu menurutku pelajaran yang masih agak lama karena mereka masih baru banget," tambahnya.
Baca juga: Ribuan Demonstran Turun Jalan, Kenapa Gerakan Mahasiswa Selalu Terdepan?
Alih-alih membahas anggapan adanya kultur patriarkis dalam demo mahasiswa, Luviana justru menilai mahasiswa mempunyai kesadaran tinggi untuk melakukan pembelaan terhadap masyarakat yang tertindas.
Hal ini dianggap Luviana sebagai cara mahasiswa untuk menghormati dan memberikan ruang pada masyarakat.
Luviana memberi contoh, ketika mahasiswa menolak rancangan KUHP, artinya mahasiswa juga menolak pasal-pasal terkait kriminalisasi perempuan.
"Itu buat saya sudah luar biasa banget. Dan ini pelajaran baik buat saya untuk mahasiswa, setelah 98 enggak ada demo sebesar ini. Mereka dengan kesadaran dan bawa berbagai poster, itu buatku sangat luar biasa," ungkapnya.
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!