Kompas.com - 20/09/2019, 19:03 WIB
Warga terpapar asap mengungsi di posko pengungsian Kantor DPW PKS Riau di Pekanbaru, Riau, Rabu (18/9/2019) malam. KOMPAS.COM/IDONWarga terpapar asap mengungsi di posko pengungsian Kantor DPW PKS Riau di Pekanbaru, Riau, Rabu (18/9/2019) malam.

"Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tahun ini mengingatkan pada bencana yang sama di tahun 2015," kata Field, yang bekerja pada sebuah proyek untuk memahami bagaimana berbagai variabel meteorologis memengaruhi kemungkinan pembakaran vegetasi.

Sebagai bagian dari upaya itu, ia juga bekerja pada proyek ilmu terapan NASA untuk mengintegrasikan lebih banyak pengukuran curah hujan berbasis satelit ke dalam sistem pemantauan bahaya kebakaran yang digunakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Indonesia (BMKG).

"Hitungan api dari satelit MODIS dan VIIRS belum setinggi di tahun 2015, tetapi peningkatan aktivitas karhutla sebanding dengan 2015," kata Field.

"Namun, perlu diingat bahwa sebagian besar kebakaran terjadi di bawah permukaan tanah, sehingga tidak bisa ditangkap satelit," ungkap Field.

Dua kebakaran besar di Indonesia — 1997 dan 2015 — kondisi El Nino menyebabkan kekeringan yang merupakan faktor utama dalam memperburuk kebakaran.

Pada 2019, kondisi El Nino netral, tetapi osilasi suhu permukaan laut yang disebut Dipole Samudera Hindia tampaknya bertanggung jawab atas kondisi kering tahun ini, jelas Field.

Kondisi terkini

Terkait ungkapan Wiranto, banyak warganet yang memberi gambaran terkini terkait kondisi daerah terdampak kabut asap.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Salah satunya akun @rigoshancy. Dia memberikan gambaran Pekanbaru kemarin pagi.

"Pekanbaru tadi pagi. Awan aja masi kliatan, warga riau lebay. Ya kan pak Wir?!!" tulis @rigoshancy.

Seorang warganet @wirandagalang yang tinggal di Batusangkar, Sumatera Barat, menyayangkan ungkapan Wiranto yang menyebut keadaan masih aman. Pasalnya, dia mengaku asap sudah sampai wilayahnya dan kesehatan masyarakat sudah mulai terganggu.

Banyak juga warganet yang menantang pejabat pemerintah untuk tinggal di wilayah terdampak agar dapat merasakan perubahan kualitas udara yang berubah drastis menjadi level berbahaya.

Halaman:


Sumber NASA
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.