Kompas.com - 20/09/2019, 19:03 WIB
Seekor orangutan (Pongo pygmaeus) berada di lokasi pra-pelepasliaran di Pulau Kaja, Sei Gohong, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (19/9/2019). Sebanyak 37 orangutan yang dirawat di pusat rehabilitasi Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival) di Nyaru Menteng, Palangkaraya, terjangkit infeksi saluran pernapasan akibat menghirup kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK ASeekor orangutan (Pongo pygmaeus) berada di lokasi pra-pelepasliaran di Pulau Kaja, Sei Gohong, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (19/9/2019). Sebanyak 37 orangutan yang dirawat di pusat rehabilitasi Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival) di Nyaru Menteng, Palangkaraya, terjangkit infeksi saluran pernapasan akibat menghirup kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan.

GEOS-FP juga mengolah data meteorologi seperti suhu udara, kelembaban, dan angin untuk memproyeksikan apa yang terjadi di atmosfer. Dalam hal ini, asap tetap relatif dekat dengan sumber api karena angin sangat kecil.

GEOS FP, seperti model cuaca dan iklim lainnya, menggunakan persamaan matematika yang mewakili proses fisik untuk menghitung apa yang terjadi di atmosfer. Model ini menghitung posisi dan konsentrasi partikel karbon organik setiap lima menit.

Model ini mengolah data aerosol baru pada interval tiga jam, data meteorologi baru pada interval enam jam, dan data kebakaran baru setiap hari.

Peta gambut yang tersedia melalui Pusat Atlas Penelitian Kehutanan Internasional Kalimantan menunjukkan, banyak kebakaran terjadi di dalam atau di dekat daerah-daerah dengan lahan gambut.

Kebakaran gambut cenderung sulit dipadamkan, seringkali membara di bawah permukaan tanah sampai berbulan-bulan hingga musim hujan tiba.

Kebakaran gambut melepaskan sejumlah besar gas dan partikel, termasuk karbon dioksida, metana, dan partikel halus (PM2.5).

Karbon dioksida dan metana adalah gas rumah kaca yang potensial yang menghangatkan iklim. PM 2,5 adalah campuran partikel halus yang dikenal memiliki efek kesehatan negatif.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

PM 2,5 termasuk jenis aerosol yang mengandung karbon organik dan karbon hitam dan dianggap sangat berbahaya karena partikelnya sangat kecil sehingga bisa masuk ke paru-paru dan aliran darah.

Penelitian kesehatan mengaitkan paparan karbon hitam dengan penyakit pernapasan, masalah jantung, dan kematian dini. Bukti menunjukkan kemungkinan toksisitas aerosol karbon organik juga, meskipun efek kesehatannya kurang diteliti daripada beberapa jenis partikel lainnya.

Seperti yang telah dia lakukan di musim kebakaran yang lalu, ilmuwan NASA Goddard Institute for Space Studies Robert Field telah melacak perkembangan musim kebakaran di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber NASA
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.