Riau Dikepung Kabut Asap, Greenpeace Nilai Situasi Mirip Karhutla 2015

Kompas.com - 16/09/2019, 16:32 WIB
Pengendara menembus kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Kamis (12/9/2019). Kota Pekanbaru menjadi salah satu wilayah di Provinsi Riau yang terpapar kabut asap karhutla di mana dalam tiga hari belakangan ini kabut asap semakin parah dirasakan masyarakat di kota itu. ANTARA FOTO/RONY MUHARRMANPengendara menembus kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Kamis (12/9/2019). Kota Pekanbaru menjadi salah satu wilayah di Provinsi Riau yang terpapar kabut asap karhutla di mana dalam tiga hari belakangan ini kabut asap semakin parah dirasakan masyarakat di kota itu.

Rusmadya bercerita, dia sempat berbincang dengan salah satu dokter paru di Kalimantan Tengah. Dalam sesi diskusi tentang karhutla, dokter paru ini menceritakan bahwa pasien kanker paru yang menemui dokter paru tersebut bertambah.

"Jadi kanker paru ini bisa muncul beberapa tahun setelah kebakaran hutan. Dari 2015 sampai 2019 ini, pasien yang terindikasi kanker paru bertambah, walaupun beliau belum punya data tapi pasien yang datang bertambah banyak," katanya.

Dari hal tersebut, Rusmadya melihat bahwa tidak menutup kemungkinan di masa depan ada lebih banyak pasien kanker paru dari Indonesia gara-gara karhutla yang terus terjadi setiap tahun.

"Ini yang sangat dikhawatirkan, belum lagi persoalan pertumbuhan anak terganggu," pungkas dia.

Solusi

Untuk mengatasi masalah ini, Rusmadya melihat bahwa pemerintah harus menyiapkan dan menyediakan sarana prasarana ruang publik yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendapat udara bersih.

Jika ada sarana prasarana seperti ini, diharapkan masyarakat memiliki tempat untuk mengevakuasi diri di fasilitas yang disediakan tersebut.

Ini penting agar dampak kesehatan karena asap pekat dari kebakaran hutan dapat berkurang.

Sementara itu, menurut Rusmadya, imbauan pemerintah untuk melarang kelompok rentan (ibu hamil, bayi, balita, hingga lansia) untuk keluar rumah selama terjadi karhutla adalah imbauan yang sangat standar.

"Yang paling penting sebenarnya bukan itu. Tapi bagaimana menjawab dan menangani masalah ini," kata dia.

Baca juga: Kabut Asap Riau, 3 PR Jokowi untuk Tangani Karhutla di Indonesia

Hal itu bisa dilakukan dengan pengobatan gratis, atau mendirikan rumah sakit khusus paru, juga menyediakan fasilitas agar masyarakat dapat menghirup udara bersih.

Pasalnya, masyarakat terdampak tidak hanya merasakan efeknya saat ini, tapi sampai beberapa tahun yang akan datang.

Persoalan inilah yang harus ditangani dan menjadi tanggung jawab pemerintah, menurut Rusmadya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X