Riau Dikepung Kabut Asap, 4 Alasan Ibu Hamil Dilarang Keluar Rumah

Kompas.com - 13/09/2019, 12:13 WIB
Pengendara menembus kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Kamis (12/9/2019). Kota Pekanbaru menjadi salah satu wilayah di Provinsi Riau yang terpapar kabut asap karhutla di mana dalam tiga hari belakangan ini kabut asap semakin parah dirasakan masyarakat di kota itu. ANTARA FOTO/RONY MUHARRMANPengendara menembus kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Kamis (12/9/2019). Kota Pekanbaru menjadi salah satu wilayah di Provinsi Riau yang terpapar kabut asap karhutla di mana dalam tiga hari belakangan ini kabut asap semakin parah dirasakan masyarakat di kota itu.

KOMPAS.com - Riau, diselumiti kabut asap pekat akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Akibat kejadian ini, Pemerintah Provinsi Riau bersama jajaran lintas sektoral melarang ibu hamil, bayi, balita, anak usia sekolah, dan lansia melakukan kegiatan di luar rumah atau gedung.

Apa yang dilakukan Pemprov Riau ini didukung banyak riset yang membuktikan adanya berbagai masalah kesehatan pada ibu hamil dan janin akibat polusi kabut asap.

Untuk diketahui, bayi yang belum lahir juga sangat mungkin terpapar polusi udara. Dan berikut adalah 4 risiko yang bisa dialami bayi yang terpapar polusi:

Baca juga: Pekanbaru Dikepung Kabut Asap Pekat, Ibu Hamil hingga Balita Dilarang Keluar Rumah

1. Partikel polusi bisa capai plasenta ibu hamil

Pada September 2018, ilmuwan London untuk pertama kalinya membuktikan bahwa partikel polusi udara berupa karbon dapat bergerak melalui paru-paru ibu hamil ke plasenta.

Umumnya partikel karbon terbuat dari pembakaran bahan bakar fosil.

Studi yang terbit dalam jurnal Lancet itu menemukan, perempuan hamil yang menghirup udara tercemar, partikel jelaganya akan sampai ke plasenta melalui aliran darah.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali penelitian dampak polusi udara terhadap janin dalam kandungan dikerjakan. Penelitian sebelumnya menghubungkan polusi udara dengan kelahiran prematur, berat badan rendah, gangguan pernapasan, hingga kematian bayi.

"Kami telah mengetahui untuk sementara bahwa polusi udara mempengaruhi perkembangan janin dan bisa terus mempengaruhi bayi setelah lahir dan sepanjang hidup mereka," kata peneliti dari Queen Mary University tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X