Asteroid OK yang Nyaris Tak Oke

Kompas.com - 16/08/2019, 17:08 WIB
Ilustrasi asteroid Ilustrasi asteroid

PUNCAK hujan meteor Perseids sudah dilalui di awal minggu kedua bulan Agustus 2019 ini.

Meski langit malam tidaklah benar–benar gulita seiring bertahtanya Bulan yang menjelang purnama pada 12–13 Agustus 2019, laporan–laporan pengamatan yang dihimpun International Meteor Organization menyimpulkan bahwa pada puncaknya, hujan meteor periodik ini menghamburkan 100 meter per jam. Menjadikannya salah satu hujan meteor periodik yang cukup intensif.

Meteor–meteor tersebut umumnya berasal dari meteoroid dengan dimensi dalam orde mikrometer, singkatnya seukuran debu. Namun terdapat pula meteoroid yang lebih besar dari butiran pasir dan memasuki atmosfer menjadi meteor–terang (fireball).

Salah satu di antaranya sempat diabadikan tim Virtual Telescope, lembaga nirlaba yang fokus pada penelitian dan edukasi astronomi sejagat melalui dunia maya.

Meteoroid–meteoroid Perseids merupakan remah–remah komet Swift–Tuttle, sebuah komet periodik yang memiliki periode 133 tahun. Terakhir kali komet ini melintas di dekat Bumi pada 1992 silam dan takkan kembali lagi hingga seabad kelak, tepatnya pada tahun 2126.

Setiap kali komet Swift–Tuttle menuju ke perihelionnya, hembusan angin Matahari membuat butir–butir debu dan pasir di paras sang komet terlepas dan terserak di sepanjang lintasan yang baru saja dialuinya. Remah–remah inilah yang bakal menjadi hujan meteor manakala Bumi sedang melintas melaluinya.

Komet Swift–Tuttle adalah salah satu benda langit yang menarik perhatian dunia astronomi karena bakal kerap melintas dekat Bumi di masa depan. Itu menjadikannya salah satu benda langit berpotensi bahaya. Maksudnya memiliki peluang untuk menumbuk Bumi.

Dengan diameter 27 kilometer dan kecepatan 61 kilometer per detik, apabila komet Swift–Tuttle benar–benar menumbuk Bumi, maka akan tercipta bencana tak terperi melampaui peristiwa Tumbukan Kapur–Tersier yang menjadi biang punahnya dinosaurus dan 75 persen genus makhluk hidup Bumi sezaman pada 65 juta tahun silam.

Sebab, energi tumbukan komet Swift–Tuttle bakal 27 kali lipat lebih besar ketimbang Tumbukan Kapur–Tersier.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X