Kompas.com - 26/07/2019, 14:26 WIB
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).

Rason berguna untuk mengukur tekanan, suhu, arah, kelembapan, dan kecepatan angin. Dari sinilah, BMKG dapat melihat karakter atmosfer langit Jakarta pada hari itu seperti apa.

"Jadi karakter berdasarkan atmosfernya sedang memiliki inversion layer atau lapisan inversi. Ini saya bicara atmosfer ya, bukan polutan," ungkap Agie.

Lapisan inversi merupakan lapisan batas antara udara kering dan udara lembap.

Agie mengatakan, daerah-daerah yang memiliki lapisan inversi menandakan, asap atau polutan sulit terurai di atmosfer.

Apakah lapisan inversi bisa dilihat dengan mata telanjang?

Bisa. Jika Anda pergi ke Jakarta menggunakan pesawat di siang hari, pada saat pesawat akan mendarat tampak lapisan batas di langit yang berwarna biru dan putih kelabu.

Hal ini juga bisa dilihat dari gedung-gedung pencakar langit, misalnya gedung perkantoran atau apartemen.

"Kalau ada lapisan inversi, ini menandakan polutan yang ada di sekitar Jakarta lebih susah terurai daripada hari-hari di musim hujan," jelas Agie.

"Jadi sebetulnya, karakter seperti ini lazim di musim kemarau. Ini karena (saat kemarau), udara sangat kering mengakibatkan ada lapisan inversi," imbuh Agie.

Selain itu, ketika Anda melihat lapisan inversi di langit manapun, maka awan kumulus yang berbentuk seperti bunga kol akan sulit ditemukan.

"Kalau ada awan kumulus, polutan dan asap akan mudah terurai ke atmosfer," ujar Agie.

Baca juga: Soal Polusi Jakarta, Greenpeace Minta Pedoman Pengukuran ISPU Direvisi

Agie mengatakan, umumnya kondisi ini terjadi pada pagi menjelang siang hari saat orang-orang mulai berangkat bekerja atau pergi sekolah.

"Makanya udara-udara enggak sehat menjelang jam 9 sampai 10-an," ujar Agie.

Untuk itu, Agie mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan bisa menggunakan masker jika dirasa sangat memerlukannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.